Hidupmu tragis, engkau tau !
Tapi kau takkan berlari karena hidup bukan untuk dihindari tapi dijalani. Engkau sadar, kau berada di sekitar orang orang lemah. Mereka yang tersingkir oleh lingkungan. Kau sendiri sama, terasing di tengah kebisingan kehidupan. Minoritas dimanapun berada. Orang kecil yang terpencil. Sendirian mencoba berdiri dan bertahan diantara desakan nafsu yang menyesakan. Langkahmu terseok dan tersendat. Engkau selalu tertinggal.
Hidupmu tragis, kau tak menyesal !
Sekarang engkau paham tentang peran dalam sandiwara sesaat ini. Akan kau jalani sebaik baiknya, meski engkau lantang menentang Sang-Sutradara membagi peran seenak perutnya. Tetap kan kau buat indah cerita itu. Alur dramatis yang tak mungkin terlupa. Berliku mengalir menuju akhir tak terduga.
Hidupmu tragis, engkau terima !
Tapi mohon kirim mereka sedikit hadiah yang bisa dinikmati. Wahai Sumber-Kekayaan bagilah milik-Mu agar mereka tertawa sejenak merasakan keadilan-Mu. Menyongsong segar pagi bersama hadir-Mu.
Hidupmu tragis, engkau kan menangis !
Bila melihat rekan sejawat seperti dirimu. Wahai Yang-Maha-Mulia, naikanlah derajat mereka. Lepaskanlah dari keluh kesah yang membelit dada.
Hidupmu tragis, kau kan tersenyum !
Bila Yang-Maha-Segala mengabulkan permintaanmu.
Marahlah pada angin
Benamkan rasa dalam air
Sampai kau pengap
Mendesak dada !
Kembung membusung
Terpelungkup perut
Mengerang !
Menjerit perih !
Ledakkan kata !
Buncahkan rasa !
Makilah langit !
Amuklah bumi !
Hingga marah meradang
Panas meruah
Segala memerah
Dan kau ! Pastilah punya darah !
Kelapa Gading, 4 Juli 2002
Ada, tak ada kau
Semua biasa
Tapi sialan !
Kulirik, kau punya badan
Gemuruh dada, menyala memerah
Hati mengental, meradang menanah
Sampai luka tak berasa
Kau tak juga menyapa
Ada, tak ada kau
Semua biasa
Tapi sialan !
Aku tak bisa !
Pulo Nangka, 17 Juni 2002
Jiwa-Bebas pernahkah mendengar ? Merasakan ? Ketika terbebas dari ikatan, dimana tidak ada perasaan. Sakit, bahagia, derita bukan lagi kenyataan. Berdiri di atas ketinggian yang dari sana menatap segala ombak dan badai kehidupan.
Dingin seolah semua telah terlewati. Hitam di sekeliling tak membuat mata gulita. Hati ! Di hati hidup cahaya yang mengubah semua menjadi terang. Gelap terbakar. Semua indah berpendar. Menatap teduh ke bawah, di kejauhan dimana orang orang memburu kebahagiaan. Belenggu-Berbunga yang membuat sesak setiap waktu.
Jiwa-Bebas tak mengharap bahagia. Jiwa-Bebas mendapat setiap waktu tanpa berburu. Bagaimana derita ? Jiwa-Bebas siap meninggalkan. Tanpa kenangan. Tanpa ada luka menganga. Jiwa-Bebas tak perlu menghindar atau sembunyi.
Derita diundang tapi Jiwa-Bebas tak pernah mengenal siapa yang datang. Bahagia ? Derita ? Baginya tiada berbeda. Jiwa-Bebas tak kenal keduanya. Sikapnya sama tanpa diminta. Tak perlu berusaha semua berlalu begitu saja.
Jiwa-Bebas menetap di ketinggian sana. Tersenyum dingin tanpa rasa. Maka janganlah engkau membencinya karena yang kau dapat sia sia belaka.
Lepaskan saja Belenggu-Berbunga, lempar jauh ke dasar sana. Berbaliklah ! Putarlah Jiwa ! Datanglah segera ke atas sana lalu duduk di sampingnya. Tapi Ahh...sungguh sayang ! Engkau tak mampu mendaki. Ternyata kau tak punya lilin apalagi nyali.
Jangan ! Jangan kau lakukan ! Kau akan tersesat di kegelapan, terhempas dalam kepedihan. Kau butuh pertolongan tapi tak ada seorangpun di dekatmu. Engkau butuh bantuan tapi semua orang menghilang darimu. Kau tenggelam lalu ditelan amat kejam. Nestapa sepanjang jalan.
Jiwa-Bebas bisa memandangmu tapi kau tak kuasa melihatnya. Jiwa-Bebas bisa menyakitimu tapi percuma kau menyiksanya. Biar. Biarlah dia menuruni lembah iba. Menghampiri yang terlunta dan buta.
Bila kau bersua dengannya dekap erat tangannya. Dengar alunan nafasnya. Peluklah dia. Bersimpuhlah padanya. Dengarlah bisikannya, " Percuma kau dekati aku...!"
Pulau Nangka, 10 April 2002

Manusia lemah, minoritas dan kaum tertindas, mereka semua serupa. Di sana membersit ketulusan yang terjepit di sela penderitaan dan sengsara. Tekanan tekanan tak kunjung usai. Tuduhan tuduhan mengacung pada mereka seolah tak pernah berpaling kearah yang lain. Sistem ini memuakkan. Mereka terpojok oleh kekuasaan yang menampakan diri sebagai uang.
Kapital, uang seringkali mereduksi nilai kemanusiaan menjadi suatu kenistaan. Materi yang jika dinilai tidaklah seberapa, mampu membalikan niat luhur menjadi serupa perbuatan setan. Kapitalis Jijik bertahta dengan uang digenggaman. Uang, agama dan moralitas Mereka.
Kapitalis Jijik tak berpikir seberapa besar pengorbanan mereka untuk menggelembungkan saku kapitalnya. Ia mencuri diam-diam dari kaum yang lemah. Buruh yang tertindas diperas lelah keringatnya. Nilai lebih yang seharusnya menjadi hak mereka diambil secara sewenang wenang. Kapitalis Jijik menilai manusia bukan sebagai mahluk bermartabat tetapi mesin produksi untuk menimbun pundi-pundi mereka. Manusia hanya layak hidup jika dan hanya jika mampu menghasilkan uang bagi perut Mereka.
Kapitalis Jijik, mari kencingi wajah mereka. Wajah yang sudah kusam disiram aroma wewangian comberan yang pekat. Biar semerbak menebar, agar setiap orang meludah saat melintas dihadapannya. Kapitalis Jijik bukan manusia melainkan iblis bermuka dua. Kapitalis Jijik layak menerima hinaan karena jutaan manusia menderita akibat polah tingkahnya. Kapitalis Jijik bukan juru selamat, melainkan penindas penabur derita.
Kapitalis Jijik harus dibasmi. Nafsu mereka yang merajalela harus dilawan dan diperangi. Mari berdiri dibarisan paling depan. Dengan tangan mengepal teriakan keadilan. Meninju ketimpangan agar terkapar. Menghantam dada sampai mati terpental, lalu di injak sekuat tenaga agar hancur serupa tanah. Kita pun tak perlu repot-repot menguburnya.
Pulo Nangka, 4 April 2002

Saat itu pagi masih terasa dingin. Hujan gerimis masih menetes di luar ruangan sempit tempat kami berlima makan. Ibu terlihat mondar mandir dari ujung meja yang satu ke ujung yang lain menuangkan nasi goreng kesetiap piring yang ada di hadapan kami. Suara benturan piring dengan sendok sesekali terdengar meningkahi seretan kaki Ibu.
Kami semua terdiam. Aku duduk menunggu Ibu menyelesaikan tugasnya. Adik asyik memainkan sendok kecil ditangannya. Eyang di seberang sana cemberut, raut mukanya masam mengamati setiap gerakan Ibu. Wajahnya terlihat kaku, matanya berbinar seolah menunggu sesuatu terjadi. Suara benturan piring kembali menyentak di tengah keheningan tapi Eyang tak bergeming. Kami pun tetap diam.
Suasana kian mencekam saat Ibu melangkah mendekati tempat duduk Eyang. Sorot matanya yang menusuk membuat Ibu takut dan menunduk. Tapi Ibu tetap berusaha menyelesaikan tugas hariannya, menyiapkan sarapan pagi buat kami. Pelan pelan Ibu menuangkan nasi, jemarinya terlihat bergetar. Dengan segenap keberanian Ia menggerakan tangannya, menaburkan sebongkah nasi ke atas piring Eyang. Tapi sayang nasi jatuh berserakan di sekitar piring tepat di hadapan Eyang. Keberanian yang membuncah ternyata kalah oleh panasnya kebencian dari tatapan mata Eyang. Ibu gugup wajahnya pasi. Ia meraih serbed dipundaknya kemudian membersihkan serpihan nasi yang berserakan sambil mengucap maaf berkali kali. Nafas Eyang tersengal, naik, turun, tak teratur. Kebenciannya meluap. Tangan kecilnya mengepal geram menahan amarah pada sang mantu. Tapi siapa yang mampu menahan kebencian ? Tiba tiba tangan Eyang melayang cepat kearah kepala Ibu. Ibu terpental oleh kebencian yang menghantam. Ibu terkaget, bingung, diam, lalu berlari menangis meninggalkan kami.
Bapak terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Aku tertegun. Adik akhirnya ikut menangis. Eyang tetap tenang duduk seperti patung. Dingin, semua seolah tak terjadi, tak ada yang istimewa disekitarnya. Ia tetap diam, pandangannya lurus, kepalanya tegak. Wajahnya memancarkan kepuasan tak berhingga. Ia tersenyum sendiri. Entah pada siapa. Mungkin pada majikannya. Setan yang selalu mencoba menjadi tuan direlung hati manusia. Bapak terpaku. Aku terpaku. Kami tak tahu apa yang terjadi. Sementara Ibu entah berada dimana !
Pulo Nangka, 17 Maret 2002
Selama di sana, Engkau mengalir seperti biasa. Kau berusaha bertahan dari terpaan angin yang mengguncangkan jiwa. Getaran kehidupan mulai terasa kencang. Engkau mengalami variasi hidup yang lain dari lingkunganmu. Tentang kepahitan yang tak berujung. Cita cita yang terlunta. Cinta yang tertunda. Serta tentang perjuangan panjang dan masa depan tak berpengharapan.
Engkau melihatnya dengan hati lalu menilainya sebagai wajah wajah kehidupan yang menatapmu. Taringnya yang beringas mencoba menerkammu. Ketulusanmu nyaris hilang. Keyakinanmu akan keikhlasan terus menerus tergerus. Jamur jamur kedengkian serta kebencian menjalar di sekujur tubuh. Hatimu penuh bercak kesombongan dan kemunafikan. Di sana, Kau ternyata makin lemah. Engkau belum mampu mengatasi dirimu. Nafsu masih bertahta atasmu. Ketinggian hatimu kian berkuasa. Engkau tertindas oleh dirimu.
Pulo Nangka, 17 Maret 2002

Burung-Putih, berbulu bersih tinggi melayang. Terbang kesana kemari mencari harapan. Pada Mendung, ia coba menyapa. Pada Awan, ia tersenyum ramah. Tetapi sayang, tak ada sedikitpun kebaikan yang ia terima. Si-Mendung mukanya bertambah masam ketika disapa. Sedang Si-Awan membalasnya dengan memalingkan muka.
Burung-Putih kecewa. Hatinya gelisah tiada tara. Lama ia berputar putar berpikir hendak kemana. Tanpa sengaja, ia bertemu Sang-Surya yang setia menerangi setiap mahluknya. Burung-Putih menyunggingkan senyum meski murung masih merajai mukanya. Ia mengirim keramahan dengan segenap ketulusan yang tersisa. Seperti biasa, Sang-Surya membalas dengan pancaran sinar kehangatan. Ia persembahkan sinar yang paling indah pada mahluknya. Burung-Putih terpesona. Ia tertegun sekaligus berbunga. Sepertinya ia belum pernah menikmati pagi ketika Sang-Surya menyapa semua mahluknya atau duduk di tepi pantai kala Sang-Surya beranjak menuju peraduannya. Hati Burung-Putih menari nari. Wajahnya berseri. Bulunya memancarkan kemilau kebahagiaan. Dengan riang, ia kembali terbang ke sarang. Tak henti hentinya ia bersiul mendendangkan lagu harapan. Tentang pagi yang indah. Tentang senja yang mempesona.
Sesampainya di rumah, Burung-Putih membasuh muka, membersihkan paruh dan kakinya. Ia mengurai bulu bulunya sambil melangkah menuju peraduannya. Burung-Putih melempar tubuh melepas lelah. Ia terlentang, matanya menatap ke awang menikmati kerlap kerlip Bintang yang mengintip dari sela dedaunan. Bunga warna warni memekar dalam hati. Ia berharap pagi segera menjelang. Agar dapat merasakan belaian kehangatan Sang Surya, menikmati pancaran kebaikan hatinya, menikmati keramahan pribadinya dan merasakan semua keindahan yang ada di sana. Burung-Putih terpejam membayangkan hari esok yang akan selalu dan semakin indah. Burung-Putih terlelap dibuai impiannya.
Esok pagi menjelang, Burung-Putih terjaga. Angin yang berdesir dan suara gesekan daun membangunkan tidurnya. Burung Putih merasa berat bangun dari tumpukan jerami yang menyelimuti tubuhnya. Ia tahu Si-Angin datang untuk menyapa. Ia tahu Si-Angin menunggu di depan beranda. Lama ia termenung seraya berbaring, perasaan malas menggelanyuti tubuhnya. Sekali lagi terdengar suara Si-Angin menyapa dengan lembut. Perasaan Burung-Putih mulai runtuh. Perasaannya tak enak. Dari dalam menyeruak perasaan tak tega untuk menolak. Sementara Si-Angin menunggu dengan sabar di luar. Lesu Burung-Putih menanggalkan selimutnya, dengan gontai ia bangkit menyeret kakinya. Pelan pelan tangannya menarik daun pintu. Sedikit demi sedikit, raut muka Si-Angin menyembul dihadapannya. Ia tersenyum bahagia melihat mahluk yang disayanginya menyambut kehadirannya. Tanpa diminta Si-Angin melangkah masuk, suaranya berdesir menyentuh telinga. Bersungut sungut Burung-Putih berbalik mengikuti langkahnya, mereka lalu duduk berhadapan berbincang bincang kesana kemari tak tentu arah. Bagi Si-Angin ini adalah saat saat terindahnya sedang bagi Si-Burung-Putih ini merupakan bagian yang paling membosankan dalam hidupnya.
Ada perasaan yang selalu menekan nuraninya, menyentak nyentak memaksa dari dasar hatinya. Tetapi Burung-Putih tak kuasa mengungkapkan. Ia khawatir melukai perasaan Si-Angin. Burung-Putih takut melawan ketulusan. Sementara Si-Angin terus berkicau, ia tak perduli yang tersimpan di kedalaman sana. Rasa bahagianya tak terkendali, perasaannya terus mengalir ke lautan suka cita. Bahagia dan hanya bahagia yang ia rasa. Sedang hati Burung-Putih melanglang entah kemana, ia mengarungi kebimbangan. Sendiri, terombang ambing oleh keraguan. Ia bingung lalu jatuh terpekur.
Si-Angin tersentak, ia menatap Burung-Putih yang terdiam dan lesu. Ia mengunci bibirnya rapat rapat. Mulutnya terkatup. Suasana berubah kikuk. Sepi menyelip diantara mereka. Perasaan tak enak melingkupi suasana pagi yang cerah. Kebahagiaan Si-Angin lenyap seketika. Ia bingung harus berbuat apa. Ia memandang dinding, ditatapnya daun kering satu satu, dihitungnya ranting ranting atap untuk menghibur diri. Lambat laun Si-Angin merasa pengap. Dadanya sedikit demi sedikit menyesak. Hingga Si-Angin tak lagi kuasa menahan gerah. Ia berdiri mendekati jendela, dibukanya daun jendela itu lebar lebar.
Sinar Sang-Surya langsung berkelebat menerobos jendela melewati wajahnya. Terus meluncur merangkul tubuh Burung-Putih yang menunduk termenung resah. Penuh gemulai ia membelai halus bulu Burung-Putih dengan kehangatan. Ia hidupkan kembali keindahan pagi yang hilang. Burung-Putih yang terpekur tiba tiba merasa kehangatan menyusur sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, menikmati belaian lembut dari Sang-Surya. Wajahnya menengadah, lehernya yang jenjang menahan kenikmatan yang meluap tak terbendung. Tanpa terasa kakinya melayang sendiri ke udara, sayapnya mengepak tanpa sadar. Ia ikuti getaran rasa yang menuntunnya. Dengan tenang, ia terbang ke arah jendela, mengabaikan begitu saja Si-Angin yang hanya terdiam kaku membisu. Tepat di hadapan pintu jendela, Burung-Putih membuka matanya. Sambil tersenyum ia mendesis bahagia "Suryaaa...!", Sang-Surya segera menyambut dengan keindahan sinarnya. Burung-Putih kembali terpesona, serta merta ia terbang ke luar, mengepak cepat, melesat mengejar Sang-Surya. Meninggalkan Si-Angin yang terbengong kosong tak mengerti. Si-Angin hanya memandang hampa. Pandangannya kabur. Tubuhnya lemas. Si-Angin lalu jatuh terkulai tak berdaya. Segalanya berubah tak terlihat. Burung-Putih pun menghilang di telan gelap.
Pulo Mas, 16 Februari 2001