Jiwa-Bebas pernahkah mendengar ? Merasakan ? Ketika terbebas dari ikatan, dimana tidak ada perasaan. Sakit, bahagia, derita bukan lagi kenyataan. Berdiri di atas ketinggian yang dari sana menatap segala ombak dan badai kehidupan.
Dingin seolah semua telah terlewati. Hitam di sekeliling tak membuat mata gulita. Hati ! Di hati hidup cahaya yang mengubah semua menjadi terang. Gelap terbakar. Semua indah berpendar. Menatap teduh ke bawah, di kejauhan dimana orang orang memburu kebahagiaan. Belenggu-Berbunga yang membuat sesak setiap waktu.
Jiwa-Bebas tak mengharap bahagia. Jiwa-Bebas mendapat setiap waktu tanpa berburu. Bagaimana derita ? Jiwa-Bebas siap meninggalkan. Tanpa kenangan. Tanpa ada luka menganga. Jiwa-Bebas tak perlu menghindar atau sembunyi.
Derita diundang tapi Jiwa-Bebas tak pernah mengenal siapa yang datang. Bahagia ? Derita ? Baginya tiada berbeda. Jiwa-Bebas tak kenal keduanya. Sikapnya sama tanpa diminta. Tak perlu berusaha semua berlalu begitu saja.
Jiwa-Bebas menetap di ketinggian sana. Tersenyum dingin tanpa rasa. Maka janganlah engkau membencinya karena yang kau dapat sia sia belaka.
Lepaskan saja Belenggu-Berbunga, lempar jauh ke dasar sana. Berbaliklah ! Putarlah Jiwa ! Datanglah segera ke atas sana lalu duduk di sampingnya. Tapi Ahh...sungguh sayang ! Engkau tak mampu mendaki. Ternyata kau tak punya lilin apalagi nyali.
Jangan ! Jangan kau lakukan ! Kau akan tersesat di kegelapan, terhempas dalam kepedihan. Kau butuh pertolongan tapi tak ada seorangpun di dekatmu. Engkau butuh bantuan tapi semua orang menghilang darimu. Kau tenggelam lalu ditelan amat kejam. Nestapa sepanjang jalan.
Jiwa-Bebas bisa memandangmu tapi kau tak kuasa melihatnya. Jiwa-Bebas bisa menyakitimu tapi percuma kau menyiksanya. Biar. Biarlah dia menuruni lembah iba. Menghampiri yang terlunta dan buta.
Bila kau bersua dengannya dekap erat tangannya. Dengar alunan nafasnya. Peluklah dia. Bersimpuhlah padanya. Dengarlah bisikannya, " Percuma kau dekati aku...!"
Pulau Nangka, 10 April 2002

Manusia lemah, minoritas dan kaum tertindas, mereka semua serupa. Di sana membersit ketulusan yang terjepit di sela penderitaan dan sengsara. Tekanan tekanan tak kunjung usai. Tuduhan tuduhan mengacung pada mereka seolah tak pernah berpaling kearah yang lain. Sistem ini memuakkan. Mereka terpojok oleh kekuasaan yang menampakan diri sebagai uang.
Kapital, uang seringkali mereduksi nilai kemanusiaan menjadi suatu kenistaan. Materi yang jika dinilai tidaklah seberapa, mampu membalikan niat luhur menjadi serupa perbuatan setan. Kapitalis Jijik bertahta dengan uang digenggaman. Uang, agama dan moralitas Mereka.
Kapitalis Jijik tak berpikir seberapa besar pengorbanan mereka untuk menggelembungkan saku kapitalnya. Ia mencuri diam-diam dari kaum yang lemah. Buruh yang tertindas diperas lelah keringatnya. Nilai lebih yang seharusnya menjadi hak mereka diambil secara sewenang wenang. Kapitalis Jijik menilai manusia bukan sebagai mahluk bermartabat tetapi mesin produksi untuk menimbun pundi-pundi mereka. Manusia hanya layak hidup jika dan hanya jika mampu menghasilkan uang bagi perut Mereka.
Kapitalis Jijik, mari kencingi wajah mereka. Wajah yang sudah kusam disiram aroma wewangian comberan yang pekat. Biar semerbak menebar, agar setiap orang meludah saat melintas dihadapannya. Kapitalis Jijik bukan manusia melainkan iblis bermuka dua. Kapitalis Jijik layak menerima hinaan karena jutaan manusia menderita akibat polah tingkahnya. Kapitalis Jijik bukan juru selamat, melainkan penindas penabur derita.
Kapitalis Jijik harus dibasmi. Nafsu mereka yang merajalela harus dilawan dan diperangi. Mari berdiri dibarisan paling depan. Dengan tangan mengepal teriakan keadilan. Meninju ketimpangan agar terkapar. Menghantam dada sampai mati terpental, lalu di injak sekuat tenaga agar hancur serupa tanah. Kita pun tak perlu repot-repot menguburnya.
Pulo Nangka, 4 April 2002