Malam diantara bintang bintang, gaung ketulusanmu menggema dari masa lalu. Kebaikanmu membuat hatiku malu.
Kau pandang aku dewa, tapi aku tak peduli denganmu. Kau letakan diriku dipuncak kemuliaan, tapi aku selalu merendahkanmu. Kau tak perlu diagungkan, kau tak butuh ditinggikan karena kau sudah berdiri kokoh diatas keluhuran.
Aku yang penuh kotoran berdiri angkuh dihadapanmu, tapi matamu bersinar lembut seolah aku salju tak tersentuh. Hatiku yang penuh kemunafikan, kau pandang seolah kain kafan.
Lalu kapan ?
Kapan ?!
Kau anggap aku sebagai manusia ?
Aku rasa tidak pernah !
Kau pandang aku dewa, tapi aku tak peduli denganmu. Kau letakan diriku dipuncak kemuliaan, tapi aku selalu merendahkanmu. Kau tak perlu diagungkan, kau tak butuh ditinggikan karena kau sudah berdiri kokoh diatas keluhuran.
Aku yang penuh kotoran berdiri angkuh dihadapanmu, tapi matamu bersinar lembut seolah aku salju tak tersentuh. Hatiku yang penuh kemunafikan, kau pandang seolah kain kafan.
Lalu kapan ?
Kapan ?!
Kau anggap aku sebagai manusia ?
Aku rasa tidak pernah !
Pulo Nangka, 17 Agustus 2003
