Wednesday, June 23, 2004
Sederhana
Hidup ini sederhana
Sesederhana ibumu memandangmu
Apalagi bapakmu
Tertawa melihat kepergianmu !
Sesederhana mereka melepasmu
Terlalu sederhana, mungkin
Hingga sulit dimengerti
Kau juga tak mengerti ?
Apa memang tak bisa dipahami ?
Sudahlah !
Bukankah kau sudah pergi
Sudah selesai kataku, tak usah datangi
Dendam, apa penasaran ?
Sakit hati, apa rindu ?
Kesepiankah yang kau rasa ?
Turunlah jika perlu
Injak sepuasmu, kalau mendendam
Berlutut memohon, jika penasaran
Maki sepenuh hati, andai sakit hati
Peluk sekuatmu, bila merindu
Tertawalah sesukamu !
Andai kau kesepian..
Kelapa Gading, 23 Juni 2004
Thursday, January 22, 2004
Tempat Itu
Tiba tiba aku merindu tempat itu. Dengan keremangannya, bayang bayangnya atau danau yang membuatku lega. Rumput basah serta aroma yang menusuk dari kotoran yang terbuang, kembali mengundangku. Pagi yang gelap, rerimbunan pohon, debu yang tak tampak serta air yang tenang memang teman setiaku. Dengan diam mereka menampung perasaan dan semua kegelisahanku. Kesabaran yang tak terperi.
Aku harus mengunjungi tempat itu ! Esok akan kusapa mereka tapi tak kukabarkan isi hatiku. Aku hanya duduk bersama mereka. Dalam senyap sekalipun. Cukuplah membuatku nyaman daripada di tengah manusia yang selalu riuh membuat keruh. Sengaja atau tidak, tempat ini telah menyiksaku. Begitu banyak rayuan menghantu sementara batinku kian melayu. Lemah dan pasrah. Tak kuasa juga diri melawan. Diriku terseret deras arus menuju laut ketinggian hati. Ingin kurengkuh batu, berenang menepi, lalu kuraih dahan yang mengulurkan tangan.
Kembali ke daratan dengan wajah menunduk
Merebahkan diri ke tanah
Berdiri tanpa membusungkan dada
Melangkahkan kaki kerendahan hati
Kembali ke daratan dengan wajah menunduk
Merebahkan diri ke tanah
Berdiri tanpa membusungkan dada
Melangkahkan kaki kerendahan hati
Pulo Nangka, 22 Januari 2004
Subscribe to:
Comments (Atom)