Wednesday, December 27, 2017

Muliamu


Maaf, jika malam ini teringat padamu. Hanya saja, besok kita akan bertemu. Lagi, lagi dan lagi. Maaf pula, tak mampu menahan perasaan ini. Bukan kenapa, ini wujud menghargaimu setinggi yang aku bisa. Dan mungkin, setelah esok, kita tak akan bertemu lagi. Selamanya !

Sekian panjang melalui hidup ini, diantara rutinitas menjemukan. Bahkan seringkali memuakkan ! Rasanya muskil bertemu manusia sepertimu. Kau mulia menurutku ! Dan kau tak merasa mulia,  membuat kemuliaanmu benderang dimataku. 


Senyum ketika menyakitkan. Berdiri sendiri saat dihinakan sementara temanmu meledak gemuruh bergelak tawa. Sungguh mengesankan ! Ketika semua panah mengarah kepadamu, matamu teduh menatap lancip kebencian memburu jantungmu ! Sikapmu tenang, menuntun satu persatu temanmu mendaki ketinggian. Kau sibuk menyelamatkan mereka ? Kau terima semua kebohongan dan kesalahan, sendiri ! Dan kau berterima kasih pada mereka !

Di sana. Begitu, berulang dan berulang menyaksikanmu. Apa yang kulakukan ? Tak ada ! Terperangah ! Heran ! Kagum ! Tertegun ! Sepertinya jiwa rosul memenuhi dirimu. Meliputimu, hingga benar-benar tak sadar, sinar itu begitu terang memutihkan mataku.

Berlebihan ! katamu malu-malu. Geram kubalas, tidak ! Itu kau di mataku. Kau tak bisa merubahnya ! Bagaimana bisa setuju denganmu, jika nafasmu terengah-engah menahan perih ring di dadamu. Senyumu bersusah payah menutup pasi di wajahmu. Semburan insulin deras mengalir dalam darahmu sedang temanmu, lihat ! Masih tertawa karenamu. Berlarian bahagia meninggalkanmu. Dan kau mestinya tau, betapa tak peduli aku dengan penilaianmu.

Diam. Lalu kau ceritakan rencanamu. Yahh, semoga semua berjalan baik, ucapku lirih. Di sana,
 tempat baru memanggil sinarmu. Kudengar Maha-Kasih berkehendak membagi kebaikanmu. 

Tempat itu masih gelap bukan ? 
Terangilah !

Doaku buatmu, lekas sembuh.

Selamat jalan !

Bahagia menyertaimu.
Terima kasih atas segala damaimu.



Bekasi , 27 Desember 2017



Friday, November 17, 2017

Salah


Apa ini !
Kencang, menekan
Sesak, meregang tegang
Ketengah, menarik narik !

Pergi saja !
Diam di sini !
Berangkat ?
Apa kaku di sini ?

Kau seru aku ?
Geram gumamku : Tak perlu !
Dengar !
Duduklah !

Yang bebas,
Bukankah kau ?

Samudra dalam !
Gemulai angin !


Melayang
Mengambang
Memandang
Di atas, sendiri !


Datanglah !
Kenapa ?
Ada di sana ?
Kau teriak : Salah !



Bekasi, 17 November 2017


Thursday, June 15, 2017

Namamu


"Mas..", Dari seberang jalan lelaki empat puluhan itu menegur. Bibir tipisnya menyungging, sebaris gigi putih mengintip malu-malu. Aku sekedar membalas senyumnya seraya mengingat sosok itu. Rasa-rasanya pernah mengenalnya, dulu, entah di mana. Samar dan kabur, meraba serpihan masa lalu yang terlanjur jauh, terbuang, dan mungkin tidak perlu.

Hampir setiap berbelok di pertigaan itu, di ujung jembatan kecil pejalan kaki, di pinggiran sungai yang membelah dua jalur berlawanan, di bawah lindungan pepohonan berdaun rindang, terlihat sekumpulan lelaki mengenakan jaket hijau dengan sepeda motor berjejer rapi di dekatnya. Beberapa orang asyik di atas jok mengamati handphone dengan mimik serius. Beberapa lagi berdiri berbincang dan bersenda gurau, sementara yang lain duduk-duduk santai memainkan asap rokok yang mengepul dari sela-sela bibirnya. Mereka seperti menunggu sesuatu. Saat melintas, sayup-sayup terdengar percakapan mereka, tak begitu jelas apa yang mereka bicarakan, sepintas terdengar rumit, hitungan berseling angka silih berganti memukul gendang telingaku. Sesekali, teriakkan juga tawa mereka menyela suasana lengang di siang hari. Lelaki itu sering berada di sana tetapi terkadang menghilang begitu saja. Sembari melempar senyum, ia selalu menyapa 'Mas' setiap berpapas pandang, sulit dipungkiri, keramahannya mengalir menyiram dadaku. Sepekan berlalu, aku berusaha mengingatnya namun semua sia-sia. Sosok itu tak melintas sama sekali dalam benakku. Celakanya, lelaki itu seperti benar-benar mengenalku dan sampai hari ini aku tak kunjung menyapanya.

Siang yang terik, waktu makan sedikit terlewat, jarum menunjuk pukul satu lebih sepuluh menit, perut terasa panas melilit-lilit, segera kulangkahkan kaki memenuhi tuntutan yang meronta. Setapak demi setapak kususur jalan sepanjang tepian sungai itu, bayang teduh pepohonan rimbun bergandengan memayungi kepalaku. Semilir angin sejuk berdesir menepis sinar yang bertubi-tubi menyengat kulitku. Melambat sedikit, kulayangkan pandang ke seberang jalan. Tak ada yang berubah, sejumlah orang berseragam hijau berkumpul di pertigaan. Lelaki itu tak berada di sana. Hari ini, rupanya saat yang tepat baginya untuk menghilang, batinku menggumam. Kuteruskan langkah ke arah kiri, warung bercat merah terlihat sepi dari kejauhan. Tak ada hiruk pikuk, kesibukkan atau antrian berjejal yang mengular, bangku-bangku panjang nyaris tak berpenghuni. Diam, bertopang dagu seorang Bapak mengapit segelas kopi yang tinggal setengah.

"Naaah, ini dia Pak Dokter ! Siangan, Dok ?", Girang, Bu Sumi menyambut kedatanganku. Nama lengkapnya Sumiyati, aku biasa memanggilnya Bu Sumi, umurnya menginjak enam puluh satu tahun. Sudah lebih tiga minggu dengan setia kunikmati olahan masakannya, menurutnya, wajahku mirip seorang dokter yang tinggal di lingkungan komplek itu. Persis ! Begitu ia pernah berkata.
"Makan apa, Dok ?", Tanpa basa-basi, Bu Sumi bangkit menodong. Tangannya gegas menarik selembar piring dan langsung mengusapnya. Gesit ia melampir kain lap kembali ke pundak, meraih centong lalu membuka tempat nasi dengan tangkas. Bau asap nasi panas mengepul ke angkasa, sebentar udara terasa pengap. Asap meluap-luap memenuhi ruangan. Gerah berkeringat, Bu Sumi sibuk menuangkan nasi ke atas piring.
"Tar deh Bu. Rokok dulu dua batang.", Potongku seenaknya.
"Ama susu putih !", Pintaku lagi menambah pesanan. Sekejap dahinya mengerenyit, bongkahan nasi dituang kembali ke tempat asal. Serta merta nasi bergelimpangan tumpah ruah. Sekali ayun piring nyaris kosong, hanya beberapa bulir putih menempel tertinggal di dasar piring.
"Emas mah aneh ! Kalo orang mah, makan dulu baru ngerokok !", Sergahnya menahan gemas. Jari telunjuknya meloncat memburu hidungku. Sontak kepala kutarik berkelit, jemari Bu Sumi lolos menusuk angin.
"Abis makan 'kan ngerokok lagi, Bu !", Timpaku meledek sambil mengambil duduk di ujung bangku, di sebelah Bapak yang terkucil tak perduli itu. Bu Sumi tak menjawab, bersungut-sungut ia melirik ke arahku. Tempat nasi ditutup kembali, kepulan asap seketika lenyap. Diletakkan kembali piring ke atas tumpukan yang cukup tinggi, berlapis-lapis bak menara tampak putih dan bersih. Suara benturan piring mengiris perasaanku. Tergopoh-gopoh, ia berbalik menuju pintu warung kopi yang menempel di samping kiri warung makannya. Tak berapa lama berselang, tubuh gemuknya raib tertelan dinding papan. Denting adukan bercampur seduhan air terdengar nyaring kemudian.

Sebentar menunggu, wajah bulatnya menyembul dari balik pintu, lenggak-lenggok tubuhnya melangkah menghampiri, hati-hati ia mengulurkan segelas susu putih bersama dua batang rokok menyilang di atas bibir gelas. Hidangan pertama kuterima suka ria. Bu Sumi menatapku. Rasa sebalnya berangsur mereda. Dua batang rokok kusisihkan, susu kental lantas kutiup berulang-ulang. Cemas bercampur was-was, kuhirup susu sedikit demi sedikit. Benar saja, tak ada rasa manis menyentuh lidah, susu terasa panas menganga. Bibir tersentak, bergetar, seolah ribuan semut berkerumun menyedot darahku. Cepat-cepat kutaruh gelas ke atas meja.

Sebatang rokok aku sulut. Bara api merambat, membakar gulungan tembakau menjadi abu rapuh yang kian memanjang. Dengan jentikan kecil, sesekali abu kubuang ke asbak. Sekali waktu suam-suam susu berganti menghangatkan tenggorokan yang kerontang. Rokok kuhisap dalam-dalam, kuhembus asap ke udara berkali-kali, asap putih meliuk-liuk mengikuti angin yang menari kesana kemari, warna putih akhirnya menguap percuma. Lenyap terbawa angin, hilang tiada berbekas. Hanya berkisar sepuluh menit asap-asap itu menghiburku, membawa segenap perasaanku, selebihnya puntung aku lempar ke tanah lalu kuinjak sepuasnya. Satu puntung pertanda satu kenikmatan berakhir sekaligus kenikmatan baru menjelang di depan mata, makan siang tiba. Hidangan kedua siap tersaji di atas meja. Kutarik piring lebih dekat. Sepiring nasi putih, pepes ikan mas, satu mangkuk sayur asam, dan dua tempe goreng tanpa tepung selanjutnya aku santap dengan lahap. Lambung sekejap kenyang membusung. Perut menggelembung mengikat kencang. Sebagai penutup, sebatang rokok kunyalakan, kuhirup habis susu dingin yang tersisa. Sungguh benar adanya, merokok setelah makan rasanya lebih nikmat dan menenangkan.

"Mas..", Suara seorang laki-laki, tak begitu asing, tiba-tiba mengusikku. Puntung penutup kubuang jauh-jauh. Kualihkan pandangan ke samping, tak seorangpun ada di sana. Seonggok gelas berisi sisa ampas hitam tergolek sendiri. Si Bapak rupanya pergi diam-diam, pikirku. Aku berputar ke sumber suara, seorang lelaki berjaket hijau sibuk mengaduk-aduk kotak pendingin minuman. Seperti berjongkok merogoh kolong, kepala hingga lehernya tenggelam tertutup oleh badannya yang membungkuk dan lebar. Sejenak Aku menunggu penasaran, sambil menarik tutup botol lelaki itu tegak membalikkan badan, matapun bertabrak pandang. Lelaki itu tersenyum, rautnya tampak berat dan lelah. Keringat dan minyak melumuri sebagian wajahnya.

"Ohh, kaa-muu !", Aku menyapa ragu. Tersendat, bibirku kaku bergerak. Lelaki itu beranjak mendekat, tepat di bawah palang pintu ia menyandarkan punggung, air mukanya terpampang jelas dihadapanku. Potongan rambutnya, kulitnya yang hitam, rahang yang tegas, alis mata yang tebal dengan sorot mata yang tajam, hidung yang bangir, bibir yang tipis hingga gigi-gigi kecil yang berbaris rapi, melemparku ke peristiwa belasan tahun silam kala beriringan menjabat tangannya di atas panggung kayu pernikahan yang sederhana.

Waktu itu, menjelang sore, matahari mulai meredup, senja masih gamang membentang, di bawah naungan tenda kecil beratap terpal, dengan aneka hiasan rangkaian janur kuning, berpadu untaian warna-warni potongan kertas krep seadanya. Di antara kursi-kursi plastik berserakan di sana-sini, di tengah iringan musik marawis riuh menghentak, dia mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil meremas tanganku erat-erat. Di sampingnya, seorang wanita anggun mengulum senyum, sikapnya menghormat dengan tangan menguncup sembah di dada. Bingung membersit dari balik wajahnya. Aku memang tidak mengenal mereka, saat itu seorang teman memaksaku menemaninya hadir dalam upacara agung itu. Undangan tak pernah kuterima, apalagi membacanya. Seperti yang lain, peristiwa terjadi begitu saja. Tak ada yang istimewa. Yang aku tahu, lelaki itu Betawi tulen yang tinggal di sebelah belakang dan wanita itu seorang pendatang dari Wonogiri. Mulai sejak itu, lelaki itu memanggilku 'Mas' di manapun bertemu muka, sengaja atau tidak. Mungkin karena istrinya orang jawa atau bisa jadi dia tahu aku pendatang dari jawa. Entahlah, yang pasti dia tak pernah menyebut namaku, demikian pula aku, tak pernah sekali pun memanggil namanya. Meski sempat sekali duakali nama itu melewati telingaku.

Kupilah tumpukan cerita yang menggunung, menggali satu persatu gumpalan ingatan yang mengendap di dasar kepala. Mengurai kembali kenangan lama yang keras membatu. Tak kujumpai nama lelaki itu di sana. Kutelisik ulang sudut demi sudut masa silam yang terbenam, satupun tak kutemukan petunjuk yang membantu. Justru, teman-teman lamaku berhamburan berebut memenuhi kepalaku.

"Kerja di sini ?", Tanyaku canggung.
"Ga, Mas. Ngojek saya.", Jawabnya singkat.
"Ni baru nganter. Ngaso bentar. Tar jalan lagi, Mas.", Ujarnya melanjutkan kalimat yang terputus karena dahaga. Sesaat, ia meneguk minuman. Tenggorokannya naik dan turun. Lega segera memercik di wajahnya.
"Masih tinggal di sana ?". Tanyaku lagi menyambung percakapan.
"Iya, Mas. Masih di belakang.", Lelaki itu jeda terdiam. Dari saku celana, ia menarik sehelai kain lalu menyeka peluh yang meleleh dari dahi hingga pipinya. Kilapan di wajah kontan menghilang. Kulitnya berubah kering tetapi terlihat pucat.

Tempat di pinggiran timur kota ini melintas di benakku. Sebuah kampung yang padat dengan danau kecil di tengahnya. Sudut yang sesak dengan gang-gang sempit bercabang-cabang, diapit oleh bangunan bertingkat kayu berdinding papan, menjulang saling berdesakkan. Aspal jalanan yang mengelupas tak rata, berlobang, bergelombang, bercampur tanah yang siap menjadi kubangan kapan saja hujan menghantam. Saluran air yang tak mengalir, hitam pekat, penuh lumpur mampat dengan bau menyengat. Sampah yang berceceran di sana-sini serta lambaian jemuran bergantungan tak teratur, pemandangan sehari-hari yang kunikmati selama tiga tahun menghabiskan waktu di sana.

"Amad, masih di situ ?"
"Masih, Mas. Bulutangkisnya masih jalan juga, dia.", Amad seorang pendatang yang beruntung, ia berhasil menyunting puteri Betawi. Lelaki itu mengingatkanku pada hobinya bermain bulutangkis. Tak diragukan, dia pemain handal. Meski tubuhnya tidak terlalu tinggi, dia selalu diturunkan untuk merebut poin pertama. Loncatannya yang tinggi serta smas yang tajam menghujam seringkali membuat mati langkah lawan-lawannya. Permainan netnya juga cantik, senjata ampuhnya melewati saat-saat kritis kala angka saling berkejaran dengan ketat. Bola-bola pendek tipuannya tak jarang pula menambah angka tak terduga. Hampir setiap turun ke lapangan, Dia menyumbang kemenangan dan ini menaikan semangat pemain berikutnya. Karena itulah kami selalu sepakat menunjuknya sebagai pemain tunggal pertama. Kadang bahkan tak perlu berunding sama sekali. Selain tangkas bermain bulutangkis, Amad piawai mendendangkan lagu dangdut, suara baritonnya merdu empuk bertenaga, kontrol nadanya jarang meleset terdengar enak dan pas di telinga. Sering gitarku dipakai mengiringinya bernyanyi sekedar untuk menghibur dan menciptakan suasana menyenangkan kala senggang menikmati bersama hembusan angin malam serta cahaya bintang gemintang. Cengkoknya yang khas Si Raja Dangdut membuat kagum banyak orang. Pernapasannya memang bagus, kabarnya dia pernah menjuarai lomba membaca ayat-ayat suci.

"Madi ?"
"Kurirnya berhenti, Mas. Sekarang sekuriti dia."
"Ghifari dah SMA kali ya ?"
"Belum, Mas. Masih SMP dia. Kelas sembilan kalo ga salah.",  Tak pasti lelaki itu menjawab, tetapi cukup masuk diakal. Kucoba menduga umur anak itu. Seingatku, ia masih merangkak, belum genap satu tahun ketika aku meninggalkan tempat itu, sekarang tentu menginjak remaja. Dia anak pertama 'Madi' seorang Betawi tulen yang cukup akrab denganku. Sifatnya keras tetapi rajin serta tekun beribadah. Nakal tetapi juga fasih membaca kitab suci. Setia kawan serta jago bermain bola. Pribadi khas pemuda Betawi pada umumnya. Dialah yang mengajakku hadir di pernikahan lelaki yang sekarang berada di hadapanku.

"Bang Patela, gimana kabarnya ?"
"Baik, Mas. Sehat. Sekarang tinggal di rumah sendiri. Di depan."
"Kemaren baru ketemu !", Kata lelaki itu meyakinkan. Diam-diam hatiku bersyukur karena kehidupannya bertambah baik. Aku memanggilnya 'Bang' karena umurnya jauh terpaut dariku. Sementara aku masih membujang, saat itu dia sudah mempunyai dua orang anak. Yang pertama kelas empat sekolah dasar, perempuan dan yang paling kecil, laki-laki, baru dua bulan masuk paud. Menurut cerita istrinya, orang-orang memanggilnya 'Patela' karena lidahnya yang pendek. Katanya lagi, hal itulah penyebab bicaranya cedal sejak kecil. Sebenarnya, nama pemberian orang tuanya 'Fatahilah'. Diambil dari nama Sang Pahlawan yang konon gagah berani merebut kota ini dari penjajah kompeni sekian abad yang silam. Bang Patela Betawi tulen, ia Ketua RINUM, singkatan Remaja Islam Nurul Muhajirin. Sebuah organisasi kecil yang didirikan bersama-sama oleh remaja yang aktif berkegiatan ibadah di Mushola Nurul Muhajirin. Dari sekian banyak pendatang, aku termasuk yang sedikit bergabung di dalamnya. Dia menantu Haji Mail, takmir di Mushola itu. Tubuhnya kecil mungil tetapi gesit dan lincah saat membawa mobil.

Bak peluru berhamburan dari moncong senapan mesin, teman-teman lamaku meluncur tak terkendali. Mulutku membabi buta, bergerak sendiri, menyebut satu persatu rentetan nama yang berderet di belakang kepala. Dan aku tak mampu membendungnya.

"Anak-anak dah jarang nongkrong, Mas. Dah pada males. Umur kali ya. Saya juga, pulang palingan ngaso. Ngilangin cape. Brangkat pagi soalnya. Begitu tiap hari."
"Kok, sama. Umur abis di jalan !", Gurauku menyela. Lelaki itu tertawa kecil. Hambar.
"Di depan masih rame ?"
"Ga tau, Mas. Saya jarang ke depan. Sejak istri meninggal."
"Inalillahi. Kapan ?"
"Enem taunan lalu, Mas. Pas anak tujuh bulan."
"Melahirkan ?", Kejarku.
"Ga, Mas. Sakit paru. Ada cairan di paru-paru. Kaya kanker gitu. Sore sesek, bawa ke rumah sakit. Malem, masih di UGD ga ketolong."
"Kandungan pas tujuh bulan, Mas !", Kalimatnya terhenti sendiri. Rautnya mendadak berubah murung. Matanya mengambang berkaca-kaca. Wajahnya yang pucat melayu semakin pasi. Ia menekuk wajahnya dalam-dalam. Tubuhnya tampak lunglai. Badannya yang besar menyusut, lemah dan rapuh.
"Bayangin, Mas. Lima tahun menunggu. Seneng-senengnya bakal punya momongan. Tapi Tuhan... Ahh sudahlahh ! Apa mau dikata !", Ujarnya sendiri penuh emosi. Nadanya meninggi lalu menukik pasrah. Dengus nafasnya dalam. Dadanya naik dan turun gelisah. Aku hanya bisa terdiam.
"Sekarang kalo balik ke rumah, perasaan ga tau, Mas. Bawaan males. Jadi inget yang dulu-dulu. Dah ga ada siapa-siapa gitu. Enakan di jalan, lupa semuanya."

Dering suara pengingat menyela keras, dari saku atas jaket lelaki itu mengeluarkan handphone. Sejenak ia mengamati dengan cermat lalu jemarinya mengetuk layar beberapa kali.
"Maap, Mas. Mesti jalan nih. Jemput pelanggan. Lain kali kita sambung, moga dikasih umur panjang !", Lelaki itu berpamitan, meninggalkanku dengan langkah gontai. Lesu, ia berjalan menuju pertigaan itu. Semakin menjauh badannya semakin mengecil, sebentar dia berhenti, kembali mengangkat telpon, kemudian berbincang dengan temannya, jarinya menunjuk-nunjuk ke udara, berputar, bergerak-gerak dengan arah tak beraturan. Dia menarik sepeda motor, memasang helm, selanjutnya deru suara tarikan gas menyusul memecah keheningan. Motor melaju, menghilang di tengah padatnya lalu lintas kendaraan di siang hari.

                                                                      =====

Pagi di lantai tiga, pintu kaca aku geser perlahan. Tipis bias sinar menyusup melalui kisi jendela dari ruangan sebelah. Udara pengap bercampur debu menyerbu lorong hidungku. Lampu dan pendingin ruangan segera kunyalakan, putaran kipas aku tambah berlipat-lipat, temperatur kuturunkan jauh menyentuh dasar, angin sejuk mengguyur sekujur tubuhku. Sejengkal, pintu sengaja kubiarkan terbuka agar udara berganti segarnya pagi. Kutarik kursi, kusandarkan kepala merebahkan penat yang menyesakkan dada. Dingin mulai merambat. Sedikit menahan nafas, satu tombol aku tekan, dengungan panjang menyusul menghiasi ruangan, layar monitor berpijar terkembang lebar. Sebuah situs berita aku kunjungi.

Hitungan detik halaman utama terbentang di depan mata, lalu-lalang iklan berkelebat menyergap perhatianku, promosi bermacam-macam barang menarik-narik pandanganku. Mondar-mandir, berkedap-kedip menggoda, tak sedikitpun membuat beralih pandang. Aku bergeming. Tatapanku tak berubah, pandangan terpaku pada headline berita di bagian atas dengan gambar terpampang besar nyaris menutup sepertiga halaman. Sebuah foto dengan dominasi kerumunan massa berjaket hijau dilengkapi pelindung kepala berwarna senada berbaris memenuhi sisi kiri jalur lambat. Di jalur cepat pemandangan tampak mencekam, di bagian tengah batu, bambu, batangan kayu dan pecahan kaca terlihat berserakan di sana-sini. Suasana terkesan kacau dan berantakan. Bangkai sepeda motor tergeletak gosong mengepul asap. Di bawah jembatan penyeberangan, terlihat dua orang polisi berjongkok berhadapan mengamati sebuah tubuh yang terkapar tak berdaya. Satu tangannya mendekap perut menahan sakit, tangannya yang lain memeluk dada menutup luka, bercak darah kontras melumuri penutup tubuhnya. Di sudut yang lain, terlihat barisan polisi bergandengan menahan kerumunan massa berjaket hijau yang terlihat marah dan beringas. Beberapa orang mengangkat tangan mengepal geram. Bambu dan kayu panjang menusuk-nusuk ke udara. Di belakang kerumunan, beberapa orang tertangkap basah melempar batu dengan merentang tangan sekuat tenaga. Di sisi yang lain para polisi berderet rapat menutup jalan memisahkan kerumunan massa berseragam biru laut bergabung dengan massa berseragam khas sopir berwarna oranye. Mobil angkot dan sejumlah taksi berderet panjang di kanan kiri jalur lambat, beberapa kaca jendela pecah. Rontok berserakan. Beberapa badan mobil penyok karena pukulan dan amukan. Seorang polisi terlihat berjalan merangkul seorang pria yang menunduk dengan kedua tangan menyilang terikat borgol. Permasalahan ternyata belum selesai, negosiasi dan kesepakatan gagal tercapai. Bentrokkan tak bisa dihindarkan setelah dua minggu ini tenang. Kali ini jatuh korban. Di bagian bawah foto tertulis judul berita, tebal dan menonjol " Bentrok Kembali Terjadi , Jatuh Satu Korban ! ".

Seperti hari-hari yang lain, di kota ini waktu bergulir begitu cepat. Satu hari selalu kurang untuk menyelesaikan pekerjaan. Pekerjaan masih juga menumpuk, beberapa pelanggan menelpon menagih janji minggu yang lalu. Perbaikan belum juga selesai. Sementara rongga mulut terasa asam, perut kosong gemetar mulai mengganggu. Kuputuskan berhenti sejenak mencari udara segar sekaligus sesuap nasi untuk bertahan. Sehabis makan semangat biasanya berlipat, pekerjaan pun selesai dengan cepat. Aku bangkit dari duduk, bergegas menuruni tangga, lalu memburu ke luar menuju warung Bu Sumi.

Sesampai di pertigaan, kuterawang ke seberang jalan. Di sana sepi, hanya terlihat seorang berdiri di tengah jembatan kecil pejalan kaki yang melintang menyeberangi sungai, menunduk sendiri, menatap gemericik air yang entah ke mana mengalir. Beberapa helai daun berjatuhan terombang-ambing angin. Aku berbelok ke arah kiri. Sebuah mobil berwarna putih parkir di pinggir jalan, sekitar lima orang sedang bercakap-cakap di depan warung Bu Sumi. Satu orang lelaki memakai seragam Linmas, berkumis, tinggi dan tegap. Seorang Ibu mengenakan seragam krem khas perangkat kelurahan, bermacam emblem menempel di dada dan bahunya, duduk di kursi bakso berwarna merah mencolok. Sisanya yang lain, semua laki-laki mengenakan celana pendek dan memakai kaos seadanya, hanya satu orang bercelana panjang mengenakan kemeja terlihat berpendidikan dan berwibawa. Mereka membentuk setengah lingkaran, seperti melaksanakan rapat membicarakan sesuatu yang genting. Bu Sumi sendiri tidak berada di antara mereka.

Tak perduli, aku melintas memasuki warung Bu Sumi. Mataku langsung menyapu ke sekeliling hingga sudut ruangan tak terlewati. Meja-meja tampak bersih, tak terlihat kotoran sisa makanan atau bercak bekas tumpahan air minuman. Bangku-bangku panjang kali ini benar-benar kosong, tertata rapi tak tersentuh. Di etalase sama sekali tak ada timbunan makanan siap saji. Tak ada pula kepulan asap, juga gemuruh suara kompor gas yang mengganggu. Tidak juga terdengar suara minyak mendidih atau dentingan piring yang beradu. Pelan-pelan, aku panggil nama Bu Sumi, suaraku menggema karena lengang. Wajah Bu Sumi menyeruak dari balik pintu warung kopinya. Wajahnya yang bulat terlihat segar. Rambutnya basah panjang berkilat-kilat. Mengenakan pakaian hitam dengan sedikit corak bunga kecil berwarna ungu terkesan rapi tak biasa. Naga-naganya Bu Sumi hendak berpergian jauh. Pulang kampung, mungkin. Atau setidaknya keluar kota.
"Eeii, Pak Dokter !", Bu Sumi menyapa, sambil menarik sisir yang menyangkut di ujung rambutnya.
"Ga masak, Bu ?", Tanyaku heran menahan lapar.
"Ga jualan, Dok ! Ni, mau brangkat. Dah ditunggu tuh !", Bu Sumi terus menyisir rambutnya. Dagunya mengangkat menunjuk orang-orang yang berkumpul di luar. Matanya melirik kearahku.
"Ciieee, piknik nih ?", Godaku usil.
"Takziaah, Pak Dokterr !", Balasnya meninggi.
"Brodin meninggal, Dok ! Di tusuk orang !", Lanjutnya.
"Inalillahi. Brodin siapa, Bu ?"
"Iiiihhhh. Ituuuuh. Yang kemaren ngobrol ama Emas !"
"Ojek onlain !"

Sontak aku terdiam. Bungkam. Bengong. Kelu, bibir tersendat menelan ludah. Bergetar hatiku mengulang nama lelaki itu, dengan terbata.



Kelapa Gading, 15 Juni 2017


Saturday, March 25, 2017

Alima


Konon, berdirilah sebuah kerajaan yang sedang menapaki kemasyhuran. Kerajaan itu tidak luas wilayahnya, tetapi tidak juga begitu kecil. Rakyatnya berkecukupan, mereka tak pernah khawatir memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kota-kota terlihat bergairah pada malam hari, sedang pada siang hari cukup banyak orang berlalu lalang, kereta dan kuda bergantian melintasi jalanan. Anak-anak berlarian dengan riang, tawa dan teriakan mereka menggema meramaikan setiap pagi menjelang. Pasar-pasar terlihat ramai, barang-barang memenuhi lapak dagangan yang sesak berderet, sayur mayur dan buah-buahan bertumpuk lengkap beraneka warna. Suara riuh tawar menawar mengisi hari demi hari yang berganti. Damai juga menyenangkan, begitu suasana kerajaan itu.

Sang Baginda masih berusia muda. Ia terpaksa naik tahta enam tahun yang lalu, beberapa hari setelah pemakaman Ayahanda tercinta. Sekarang Ia menginjak usia tiga puluhan tahun. Ia menjalankan pemerintahan dengan didampingi beberapa Penasehat, berada di pusat kerajaan. Istana berdiri megah dengan halaman yang luas dikelilingi oleh tembok pengaman berdinding tebal. Empat buah gerbang besi tempa bakar berdiri kekar, merupakan pintu masuk dan keluar lingkungan Istana. Di sebelah depan, alun-alun menghampar luas, dihiasi empat pohon beringin berdaun lebat, menjadi peneduh di setiap pojok tempat rakyat berkumpul mendengar pengumuman dan titah dari Sang Baginda. Sesekali juga untuk bergembira dengan memanggil bermacam hiburan tatkala Sang Baginda memperingati hari kelahirannya atau acara kerajaan yang penting lainnya.

Temaram senja nyaris menghilang, Sosok Tua menapak turun dari sebuah kereta penumpang. Dengan tenang, Ia menyeberang jalan, melangkah mendekati pintu gerbang sebelah utara. Para Penjaga yang mengamati dari kejauhan bergegas waspada menyambutnya.
"Orang Tua. Siapa gerangan dirimu ? Apa maksud kedatanganmu ?", Tepat di pintu gerbang, salah seorang Penjaga mencecarnya dengan curiga.
"Aku hendak bertemu Rajamu, wahai Penjaga.", Sosok Tua itu menjawab dengan tegas. Suaranya terdengar dalam dan berwibawa.
"Ahh, Bapak Tua. Tidak sembarang orang bisa menghadap Baginda. Pulanglah. Tulislah surat, sampaikan alasan dan maksud tujuanmu. Kirimkan ke petugas pencatat kerajaan, pastilah Dia akan mengatur pertemuanmu dengan Baginda. Percayalah, suatu saat Baginda akan memanggilmu untuk menghadapnya."
"Wahai Penjaga. Rajamu pernah berkunjung ke tempatku. Percayalah. Sampaikan padanya. Aku, Alima mohon bertemu dengan Baginda.", Sosok Tua itu menunjukkan kemuliaannya dengan membungkukkan badan untuk meyakinkan. Para penjaga saling berpandangan, beberapa menatap teliti dari kepala hingga ujung kaki. Mereka ragu sekaligus bingung, sekitar empat jengkal mereka mundur menarik diri. Tampak mereka berbisik-bisik satu sama lain, tak berapa lama salah satu dari mereka berlari bergegas menuju Istana sementara yang lain kembali bergabung menemani Sosok Tua itu menunggu di pintu gerbang.

Deru putaran roda terdengar semakin mendekat, kereta terlihat meluncur dari kejauhan. Debu mengepul mengikuti derap kaki kuda menuju pintu gerbang utara. Sedikit jauh, kereta itu berhenti di dekat Sosok Tua dan para penjaga berkumpul. Seorang Prajurit tampan, berbadan tinggi tegap turun menghampiri Sosok Tua dan para Penjaga yang sedang menunggu. Langkah dan wajahnya terlihat tegas.
"Wahai Orang Tua, Baginda berkenan Kau menghadapnya. Sang Baginda memerintahkan Aku untuk menjemputmu. Mari, Aku antar ke Istana.", Si Tampan mempersilakan Sosok Tua itu naik ke atas kereta. Ia sendiri lalu menyusul ke dalamnya. Tubuh yang tegap dan sosok yang tua kini duduk berdampingan. Sang kusir lantas menghela kuda, dengan hentakkan khasnya, Ia memutar kereta berbalik menuju Istana. Debu mengepul kembali mengikuti putaran laju roda kereta.

Didampingi beberapa Penasehat, Sang Baginda berjejer menunggu sambil bercakap-cakap di tangga teras Istana. Kereta berhenti lurus di hadapannya, Ia melangkah turun menghampiri Sosok Tua yang tersendat keluar dari pintu kereta. Baginda menyambutnya dengan membuka tangan lebar-lebar. Wajahnya bersinar riang, Ia merangkul Sosok Tua itu sambil menempelkan pipi kanan dan kirinya. Sang Baginda lalu bersalaman dan mencium tangannya, para Penasehat kemudian mengikuti bersalaman berurutan. Sang Baginda menyebut nama mereka satu persatu. Mereka lalu berjalan berdampingan masuk ke dalam Istana. Para Penasehat mengiringi dari belakang.
"Ahh, Guru Alima. Apa gerangan yang membawamu kemari ?"
"Sesungguhnya Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah, Muridku. Tetapi hari sepertinya tak mencukupi. Hitunganku sampai rumah dini hari dan badanku terasa lelah. Pikirku Aku perlu istirahat, besok kulanjutkan kembali perjalananku.", Sambil berjalan Sang Baginda mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tadi Aku juga dengar cerita-cerita dari rakyatmu. Mereka bicara hal-hal baik tentangmu. Aku jadi ingin menemuimu, wahai Muridku."
"Aku hendak menyaksikan sendiri keberhasilanmu. Melihatmu di singgasana adalah kepuasanku. Mendengar rakyat memujimu adalah kebanggaanku.", Mereka terus berjalan bergandengan memasuki Istana, Sang Baginda mengajaknya naik ke tahta, satu kursi di samping tahta rupanya telah disiapkan untuk guru yang dihormatinya.

Percakapanpun berlangsung panjang lebar antara murid dan guru. Sekitar lima tahun, mereka tak bertemu. Mereka mengenang kembali saat-saat dimana mereka berbagi peristiwa. Sang Alima tak lupa menceritakan pengalamannya mengajar di kerajaan-kerajaan sekitar. Bagaimana para bangsawan begitu tertarik dengan ajarannya, Ia ceritakan dengan rinci disertai peristiwa-peristiwa lucu saat menjalani hidup di kerajaan-kerajaan itu. Sementara Sang Baginda menceritakan dengan lancar bagaimana dirinya memimpin kerajaan, pengkhianatan yang dialami serta dibumbui betapa sulit dirinya mencari seorang permaisuri. Sebentar-sebentar Sang Baginda tersenyum, lalu tertawa lebar. Beberapa saat kemudian Sang Alima yang berganti terkekeh-kekeh geli. Mereka begitu menikmati pertemuan itu, hingga tak berasa malam pun tiba. Sang Alima dihantar ke ruangan tidur tamu-tamu khusus kerajaan yang dihormati. Sang Baginda berpisah menuju peraduannya sendiri.

Setelah membersihkan diri, Sang Baginda berbaring di atas peraduan. Tatapannya mengawang ke langit-langit kamar, kedua tangannya menyilang ke belakang menahan sandaran bantal di kepala. Pikirannya mengenang saat-saat dahulu dirinya menjadi murid Sang Alima. Beberapa pelajaran melintas kembali dalam benaknya, satu hal berharga tak pernah terlewati mengisi ingatannya. Sebuah pelajaran yang membuatnya mampu bertahan menjadi seorang raja hingga saat ini, tetapi memaksa dirinya untuk mengirim Pamannya ke tiang gantungan dan menjebloskan keluarganya ke dalam penjara. Setelah Ayahanda dan Ibunda meninggalkan dirinya, situasi memang rumit saat itu, namun Sang Paman memang benar-benar bermaksud keji untuk menyingkirkannya diam-diam. Peristiwa delapan tahun silam, saat Sang Baginda menerima pelajaran berputar kembali dalam ingatannya.

Malam itu, Baginda Muda terbangun di pertengahan malam. Perasaan gelisah membuatnya bangkit dari papan tidur kayu yang menahan punggungnya. Diam-diam Ia mengendap keluar kamar, berjalan sendiri menyusuri jalan setapak berbatu menuju pendopo di mana kegiatan belajar mengajar biasa dilakukan. Lampu-lampu pendopo telah lama dimatikan, suasana terasa sepi, hanya sedikit sinar bintang yang membantunya melihat bayang-bayang semak dan pepohonan. Ia memilih duduk di atas batu besar, di depan pendopo, di bawah naungan pohon yang berdaun rindang. Ia terpekur sendiri. Tatapannya kosong. Angin berhembus sepoi menggoyang-goyang helaian rambutnya.

Sang Alima yang baru selesai membaca sebuah buku di perpustakaan memergoki Baginda Muda termenung sendiri. Perasaan iba membelokkan langkah kakinya menghampiri Baginda Muda.
"Apa yang kau pikirkan, wahai Muridku ?", Suara Sang Alima mengagetkannya.
"Aku tak mampu terlelap, wahai Guru.", Baginda Muda menjawab dengan lembut. Wajahnya menekuk murung.
"Baiklah. Apa yang bisa Aku berikan padamu ?", Kata Sang Alima seraya berjongkok mengambil duduk disampingnya. Baginda Muda menggeser duduknya sedikit ke arah kanan. Mereka lalu duduk berdua berdampingan.
"Wahai Guru, selama ini Aku hidup gelisah. Hampir setiap malam Aku terbangun. Aku khawatir pada orang-orang di sekelilingku. Sepertinya mereka bukan manusia !"
"Mereka seperti menungguku lengah, wahai Guru. Untuk menerkamku !", Baginda Muda terdiam sendiri. Senyap sejenak menyusup di antara mereka.
"Lalu, apa yang bisa kubantu, wahai Muridku."
"Tunjukanlah padaku, wahai Guru."
"Siapa sebenarnya manusia paling berbahaya di sekelilingku itu ?", Baginda Muda bertanya dengan menundukkan kepala. Ia masih gelisah, tatapannya menyusur ke bawah, telapak kakinya mengusap-usap tanah dengan sendirinya.
"Dia yang paling dekat denganmu, wahai Muridku. Dia yang Engkau percaya !", Suara lirih Sang Alima menghantam dinding hati Baginda Muda. Ia tersentak, lalu menatap Gurunya heran.
"Benarkah, wahai Guru ?"
"Lalu, buat apa Kau melukai kakimu datang ke tempatku ?!"
"Mohon maaf, wahai Guru. Aku tidak paham dengan yang dikatakan."
"Kau tidak percaya, bukan !"
"Sekali lagi maaf Guru, tidak begitu adanya. Hanya belum mengerti yang Guru katakan. Dia yang Aku percaya selama ini membimbingku dengan penuh kebaikan. Ia selalu menasehati Aku. Ia menunjukkan jalan kebenaran padaku. Ia melindungi Aku. Aku sepenuhnya percaya padanya, wahai Guru. Rasanya Dia tak seperti yang lain...", Baginda Muda tak mampu melanjutkan kalimatnya, tenggorokannya tercekat, lidahnya berubah kelu. Melintas dibenaknya wajah Pamannya yang sangat disayangi.
"Yaahh. Memang begitulah caranya membunuhmu.", Sang Alima menghela nafas panjang.
"Engkau dibuatnya tidur, lalu tak terbangun lagi. Begitulah Dia membunuhmu pelan-pelan. Membuatmu mengantuk, lelap, lalu tak sadar selamanya.", Baginda Muda hanya terbengong, kata-kata Gurunya semakin jauh dari jangkauan pikirannya.
"Bagaimana bisa, wahai Guru ?"
"Yaa ! Engkau mati karena kata-katanya Kau percayai. Kehendakmu hilang. Engkau hanya bertindak mengikuti kata-katanya ! Kau tak mengujinya. Itu membuat jiwamu mati. Itu membunuhmu !", Panjang lebar Sang Alima menjelaskan semua yang dimaksudnya.
"Dengarlah, Engkau tak menentukan kebajikanmu sendiri, bukan ? Apalagi menemukan kebajikan-kebajikan baru untuk hidupmu. Begitulah Ia mengubahmu menjadi mayat.", Ujar Sang Alima melanjutkan.

Malam kian beranjak larut, suara-suara berangsur-angsur menghilang. Gambar-gambar menjadi bergerak bisu, berubah samar, menipis terus menipis lalu menyusul menghilang ditelan kegelapan. Mata Sang Baginda rupanya telah terpejam. Ia tertidur pulas dengan tangan dibawah kepalanya.

Matahari pagi menjelang, Sang Baginda dan Sang Alima duduk berhadapan di sebuah meja makan. Mereka dipisahkan berbagai macam makanan dan buah-buahan yang memenuhi di atas meja. Beberapa jenis minuman tersedia di bagian pinggir meja. Sang Alima hanya sedikit menyantap makanan yang berlimpah serta meneguk satu gelas air kelapa. Setelah merasa perutnya cukup berisi, Sang Alima berencana meneruskan perjalanan kembali ke rumah. Ia bermaksud berpamitan kepada Sang Baginda, tetapi Sang Baginda menahannya.
"Wahai Guru, sudikah kiranya engkau duduk disampingku. Mendampingiku. Membimbingku agar tak terpeleset ke jurang kenistaaan.", Sang Baginda meminta Sang Alima untuk tinggal di Istana.
"Ahh, ini bukan tempatku Baginda. Aku lebih tenang tinggal di ujung gunung sana. Itulah kerajaanku kedamaian dan ketenangan.", Dengan lembut, Sang Alima berusaha menolak  permohonan Sang Baginda.
"Pertimbangkanlah, wahai Guru. Aku membutuhkanmu di sini. Ayah dan Bundaku sudah tiada. Pamanku bahkan mengkhianatiku ! Kepada siapa lagi Aku harus bersandar ?", Sang Baginda mendekati jendela, seberkas sinar menimpa wajahnya.
"Pesan Ayahanda sungguh berat. Meskipun hingga saat ini, Aku mampu melaksanakan, tetapi seandainya Guru ada di sampingku tentu akan mengurangi beban itu."
"Bagaimana Guru, sudikah membantuku membuat maju kerajaan, bertambah wilayahnya, keilmuannya, makmur rakyatnya, kuat pasukannya ?"
"Demi kerajaan dan rakyat Guru !", Suara Sang Baginda mendesis persis di telinga kiri Sang Alima. Ia terus membujuk.

Sang Alima akhirnya, menerima tawaran Sang Baginda. Ia menempati jabatan yang khusus sebagai pendamping Sang Baginda. Banyak keputusan penting diambil karena nasehatnya. Kerajaan sedikit demi sedikit mengalami kemajuan yang membanggakan. Sang Baginda merasa puas dengan keputusan-keputusan yang diambil, kepercayaan pada Sang Alima bertumbuh semakin kuat. Satu tahun berlalu, Sang Baginda memberi penghargaan gelar kehormatan kepada Sang Alima sebagai 'Penasehat Terpercaya'. Penobatannya berlangsung meriah dalam upacara agung yang disaksikan rakyat dan dihadiri semua pejabat kerajaan. Bermacam hiburan digelar di alun-alun Istana hingga dini hari, rakyat berkumpul merayakan kegembiraan.

Waktu terus bergulir, Sang Alima menjadi semakin leluasa mengatur semua segi pemerintahan kerajaan. Para Penasehat tak lama kemudian mengundurkan diri karena nasehatnya sudah tidak didengar lagi. Kata-katanya dianggap angin lalu oleh Sang Baginda. Mereka merasa tak berguna. Sang Baginda hanya percaya penuh kepada 'Penasehat Terpercaya'. Selanjutnya, demi kemajuan yang lebih pesat untuk mencapai tujuan yang didamba Sang Baginda, Sang Alima mengambil langkah menata para pejabat pemerintahan. Satu persatu jabatan penting diganti, lalu diisi dengan saudara handai taulannya. Sekarang para menteri nyaris semuanya mempunyai hubungan darah dengan Sang Alima. Anak satu-satunya 'Putra Maha Alima' memimpin Panglima Perang Kerajaan, di bawah murid-muridnya menguasai lapisan kekuasaan di daerah-daerah sebagai bupati, demang dan bahkan kepala desa. Sang Alima menanam kekuasaan yang mengakar dalam waktu kurang dari tiga tahun, sementara Sang Baginda semakin jarang terlihat.

Hingga suatu hari, kabar berhembus kencang. Sang Baginda sedang menderita sakit. Sang Baginda tidak bisa menemui rakyatnya. Ia perlu istirahat untuk penyembuhan. Begitu kabar memenuhi udara di kerajaan. Para tabib dan ahli pengobatan terlihat mondar-mandir keluar masuk pintu gerbang sebelah selatan. Suasana di dalam Istana tenang tetapi terasa mencekam. Nyaris setiap minggu beredar kabar baru mengenai Sang Baginda. Bukan berita yang menyenangkan tetapi berita miris yang menyayat hati. Dari kuku-kuku Sang Baginda yang berubah hitam sampai wajah yang menjadi tirus dan terlihat tua. Dari kepala yang botak hingga tulang terbalut kulit. Dari mulut yang berbusa sampai lidah biru yang kaku tak bergerak. Entah penyakit apa yang menyerang Sang Baginda, tak seorang pun tahu. Istana sepertinya menutup diri.

Akhirnya hari itu pun tiba, rakyat berbondong-bondong berbaris menuju alun-alun Istana, mereka berkumpul untuk mendengar keputusan penting dari Istana. Pihak Istana telah menyampaikan pengumuman dengan menyebar ke setiap penjuru kerajaan akan adanya acara yang maha penting. Acara yang boleh dihadiri segenap rakyat tanpa terkecuali. Berita dari mulut ke mulutpun telah tersebar. Kabar yang terdengar, pengumuman akan disampaikan oleh 'Penasehat Terpercaya'.

Menjelang siang, semua pejabat sudah berkumpul, mereka bediri rapi di belakang mimbar. Pakaian lengkap kerajaan membuat mereka terlihat gagah dan terhormat. Pasukan kerajaan sudah bersiap sebelum pagi, mereka tegap mengelilingi alun-alun dengan senjata lengkap. Gerbang-gerbang lingkungan Istana juga dijaga ketat. Pasukan khusus pengawal kerajaan telah diperintah Panglima Perang Kerajaan untuk menjaga Istana. Semua terlihat sudah direncanakan rapi, cermat dan matang.

Sang Alima terlihat keluar dari lorong koridor Istana. Langkah kakinya tenang berwibawa, Ia berjalan perlahan memasuki mimbar. Kini, hampir semua mata menatap kepadanya. Para pejabat hanya terdiam sedang rakyat saling berbisik penasaran mengenai apa yang hendak disampaikan oleh 'Penasehat Terpercaya'. Sang Alima menghentikan langkahnya di tengah mimbar, semua pandangan mengarah kepadanya, suara lantang kemudian terdengar mengelilingi alun-alun.
"Wahai rakyatku. Tengah malam Sang Baginda telah mangkat, meninggalkan kita. Pemakaman sedang disiapkan. Tahta Kerajaan sekarang kosong. Perlu disampaikan, bahwa Sang Baginda telah menuliskan surat wasiat untuk menunjuk penggantinya.", Sang Alima berkata seraya mengangkat tinggi-tinggi gulungan kertas putih berikat pita merah yang berada digenggamannya. Suara gemuruh terdengar sebentar. Suasana kemudian mereda tenang. Sang Alima melanjutkan perkataannya.
"Surat wasiat ini menyatakan 'Putra Maha Alima', Sang Panglima Perang Kerajaan untuk menduduki tahta kerajaan ! Siapa yang melawan keputusan ini, surat wasiat memerintahkan dihukum dan diperangi ! Demikian surat wasiat ini menitahkan !"

Tanpa banyak berkata-kata, Sang Alima langsung membalikkan badan. Ia meninggalkan mimbar dengan langkah tetap tenang, pandangannya lurus menuju Istana. Sekali lagi, Ia melewati lorong koridor Istana, di antara tiang-tiang besar yang kokoh menjulang, Ia berhenti menyandarkan tubuhnya. Sendiri Ia terdiam, merenung, lalu menyeringai lebar. Sang Alima melanjutkan langkahnya, baru beberapa langkah, tiba-tiba Ia terbahak sambil melempar gulungan kertas kosong di tangannya ! Ia terus berjalan dengan tergelak !


Bekasi , 25 Maret 2017


Saturday, March 11, 2017

Lalu


Gerimis, remang, petang
Ke sana, lambaimu menghilang
Labuh, menjauh, lalu tenggelam
Derap angin, menapak suram

Lama, sendiri merasamu
Sepi di sini, merabamu
Pelan, tetes-tetes menggenang
Berkaca-kaca, terbuang malam

Ini perih menitik dada
Nyenyeh, leleh, luka itu
Melepuh, menelan segala indahmu
Diam terjatuh, lalu bersimpuh

Terbenam, hening, mengatup diri
Meresap, pengap, menyusup hati
Senyum, telah mengepak pergi
Lalu, kapan rupa peri kembali ?



Bekasi, 11 Maret 2017