Sunday, June 27, 2021

Pergi


Dalam beberapa bulan ini, saya mendengar, melihat atau mengunjungi beberapa teman, sahabat dan kerabat yang ditinggal oleh orang-orang dekat yang mereka kenal-baik dan mereka cintai. Peristiwa yang kembali mengingatkan kepada mereka yang telah pergi.

Beberapa masih berjuang melawan kesulitan dan cobaan yang sedang dihadapi di masa sulit ini. Kepada mereka semua, semoga diberi kemudahan untuk melewatinya dan kembali menjalani hidup seperti biasa, mengisi hidup dengan amal, ibadah, penuh kasih dan persaudaraan.

Saya sendiri mengalami berulang kali, ditinggal oleh orang-orang dekat yang saya cintai. Apakah mereka mencintai saya atau tidak bukanlah persoalan, yang pasti di dalam lubuk-hati, saya merasa mencintai mereka dan pernah merasakan cinta-kasih mereka. Bagi mereka semua, melalui doa, saya sempatkan diri memohon sekaligus berharap, mereka diberi limpahan cinta-kasih dari Sang Maha Kasih Dan Penyayang.

Namun, sesuatu kadang mengganggu ketika teringat mereka. Suatu yang sangat mungkin dengan sengaja saya abaikan, yaitu memenuhi permintaan atau harapan mereka yang sesungguhnya ringan dan dapat saya lakukan atau penuhi ketika mereka masih hidup dan dapat menikmati kebahagiaan di dunia ini.

Hal yang entah bagaimana, meluapkan sesal memenuhi dada tatkala wajah-wajah mereka silih berganti melintas dalam pikiran. Menjadikan hati ini sesak manakala ingatan berulang kali memutar berbagai peristiwa saat melewati waktu bersama mereka dengan segala kebahagiaan, kebaikan dan cinta-kasihnya.

Kepada mereka, saya memohon maaf.


Bekasi, 27 Juni 2021


Friday, June 18, 2021

Malam Itu


“Ga dihabisin, mas ?“, sambil bersandar, bapak penjaga warung melihat seorang anak muda menyingkirkan semangkuk mie ayam yang baru sedikit disantapnya.

“Takut muntah pak.“, jawab anak muda itu khawatir.

“Asem ?“

“Rasanya gimana gitu."
"Baunya ga enak. Kalau dipaksa pasti muntah deh.“

“Gimana ni, pak ?"
"Dibalikin ga enak."
"Entar tersinggung dia. Kasihankan ?“, lanjut anak muda itu, tangannya meraih segelas kopi di hadapannya, sebatang rokok dinyalakan.

“Jangan mas. Buang ke sana aja !”, jarinya menunjuk ke tempat sampah yang berada di pojokan samping warung, agak jauh dari meja.

“Sama kali, pak. Bakal tersinggung dia.”

“Gapapa mas, asal ga tau !“, Suara Bapak penjaga warung tiba-tiba berbisik. Sepasang matanya melirik curiga ke pinggir jalan.

Anak muda itu mengikuti menatap ke arah jalan. Diperhatikan sosok-tua yang berdiri lesu di depan gerobak jualannya. Sesekali sosok-tua itu menengok ke arahnya, sorot mata mereka bertemu, gemuruh laju kereta dari seberang jalan memalingkan mukanya.

Sigap anak muda itu berkelebat mengangkat mangkuk, cepat-cepat ia bergerak menuju tempat sampah. Ditengah remang malam, tempat sampah nyaris penuh, pita-pita warna kuning tampak berserakan di sana-sini. Semangkuk mie ayam yang baru dibeli dibuangnya dengan was was.

“Bapak makan juga ?”

“Iya."
"Kasihan dari sore ga ada yang beli."
"Saya amati seminggu ini sepi."
"Apalagi pandemi, sering bengong mas !“

“Masih mendingan warung."
"Satu dua, ada aja yang beli. Jadi kasihan.“

“Tapi yaa... "
"Gitu deh..”, Bapak penjaga warung tersenyum sendiri.

Selang berapa lama anak muda itu bangkit, untuk terakhir kali ia menghirup kopi yang tersisa, menggantungkan ransel ke pundak kemudian berjalan menghampiri bapak-tua di depan gerobaknya.

Samar-samar, anak muda itu terlihat membuka dompet lalu menyerahkan selembar uang, hanya sebentar ia berbicara dengan bapak-tua itu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar percakapan mereka.

“Ga usah pak. Ambil aja buat bapak.”
“Terima kasih, mas.”
“Moga laris ya pak."
"Mie ayamnya enak, kapan kapan mampir lagi deh !”

Anak muda itu mengirim senyum, lantas berlari terburu menyeberang jalan, berbelok ke kiri, menghilang dibalik pepohonan dan bayang-bayang malam.



Bekasi, 18 Juni 2021