Wednesday, July 7, 2021

KABUT SUTERA UNGU


Membaca judul film yang menarik karya Sjuman Djaja ini, yang merupakan adaptasi novel populer karya Ike Soepomo, segera pikiran meraba makna konotatif yang tersirat di balik gabungan ketiga kata itu.

Secara umum kabut bermakna konotatif sesuatu yang meliputi, yang menghalangi atau mengganggu pandangan. Sutra berarti suatu yang bersifat feminim, halus atau lembut. Ungu dapat bermakna warna yang mewakili perasaan duka seseorang.

Dengan menjalin makna konotatif-umum yang terkandung pada setiap kata, makna konotatif-judul secara keseluruhan mampu memberi gambaran tema karya itu. Film kira-kira menceritakan duka yang meliputi seorang perempuan lembut yang harus berjuang menghadapi hidup setelah ditinggal oleh suami tercinta.



Sebagai keluarga muda ideal, Miranti menjalani hidup bahagia bersama seorang suami yang baik lagi tampan. Ekonomi yang mapan karena profesi terhormat suaminya sebagai pilot melengkapi kebahagiaan. Miranti sangat mencintai suaminya dan dikarunai seorang putri yang hari demi hari mewarnai indah hidup mereka.

Namun, hidup bukanlah suatu yang tetap, kehidupan terus bergerak seiring waktu dan seringkali berputar mengejutkan, naas tiba-tiba menjemput ketika Miranti mengandung putri keduanya. Pesawat yang dipiloti sang suami mengalami kecelakaan. Suami tercinta pergi untuk selamanya bersama pesawat yang hancur berkeping-keping di udara. Miranti pun harus melewati kelahiran puteri kedua tanpa didampingi sang suami tercinta.

Miranti lalu menapaki kehidupan baru, tanpa sandaran ia menghadapi hidup yang membentang jauh disertai beban yang kian bertambah. Dalam status baru yang disandangnya, ia kukuh menjaga kesucian cinta suaminya yang telah tiada sekaligus harus menghadapi kenyataan untuk mempertahankan hidup selanjutnya yang penuh tantangan. Miranti bertekad penuh keyakinan, menjadikan dirinya seorang perempuan yang kuat, mandiri, bermartabat dan penuh harga diri.

Karena kondisi dan desakan keluarga, Miranti kembali tinggal bersama kedua orang tuanya, ia berupaya membantu sang adik membuka klinik kesehatan di rumah orang-tua mereka. Miranti mencatat administrasi pasien adiknya yang baru lulus dari fakultas kedokteran. Sayang, usaha menemani sang adik tidak berhasil karena keadaan klinik yang baru dirintis dan perlu waktu panjang untuk berkembang. Meski ditentang oleh orang tua, demi kemandirian Miranti memutuskan kembali lagi ke rumah yang dulu ditinggali bersama sang suami, ia bergegas membanting setir mengalihkan usaha.

Berbekal sedikit latar belakang pendidikan kecantikan, dengan dukungan koneksi teman-teman baiknya, ia membuka salon kecantikan dan butik. Sikap profesional serta kerja keras yang terus dijaga membuat usahanya berkembang pesat. Miranti kembali bergairah menjalani hidup, hari-hari dilewati dengan ringan dan penuh aktivitas. Miranti mulai menikmati indahnya hidup yang selama ini hilang.

Bibir tipis, leher yang jenjang, mata indah dengan wajah lembut yang cantik dan penampilan di masa muda yang menarik menjadi ujian pertama yang menghampiri. Teman-teman lama yang dulu menaruh hati kepadanya kembali mencoba mendekati. Konflik mulai berdatangan mengganggu batin, sejumlah peristiwa menyebabkan hubungan dengan teman dan sahabatnya rusak karena ulah para suami mereka. Status janda muda menjadi sumber segala persoalan dan pergolakan batin yang dialaminya.

Lingkungan sekitar terus memandang rendah dirinya. Curiga, gunjingan serta bermacam tuduhan negatif hilir mudik menghantamnya, Miranti berusaha tegar dan bertahan menjaga diri sebagai perempuan teguh, tangguh, bermoral dan bermartabat.

Dari mulut iseng orang yang nongkrong di pinggir jalan, istri tetangga yang tiba-tiba melabrak hanya karena sang suami saling sapa di taman, para suami sahabatnya yang mengkhianati istrinya, lelaki mapan yang berusaha menggoda dan menjebaknya hingga pemuda bandel yang mencoba memperkosanya, dilawan dengan kesabaran dan kesadaran tanpa melukai dan merendahkan.

Berbagai persoalan nyaris tiada henti mengikis keras hatinya. Miranti lambat laun berubah lunak, ia tertekan dan merasa lemah. Terkadang ia berlari melempar tubuh ke ranjang, mengunci diri dalam kamar, sendirian berurai air mata memeluk bantal, meluapkan rasa gundah, bertanya, mengeluh, mengadu, memohon dan membela diri dihadapan sang Maha-Kuasa. Kegigihan hatinya berlahan-lahan luntur menipis.

Waktu bergulir, Dimas adik mantan suaminya pulang setelah menyelesaikan studi di Jerman. Miranti bersama keluarga besar turut menyambut kedatangan di bandara. Ia mengajak serta kedua buah hatinya. Tanpa disangka puterinya yang masih balita langsung berlari riang, memanggil papah, menyambut sosok lelaki yang mirip dengan ayahnya. Kedua tangan Dimas membentang lebar, sambil berjongkok ia membalas dekapan dengan pelukan hangat seorang ayah. Dengan gembira mereka berjalan keluar bandara sambil menggendong puteri Miranti.

Hubungan berkembang mengiringi waktu, hari demi hari Dimas semakin memperhatikan Miranti serta kedua anaknya. Setiap waktu luang ia menyediakan diri bermain dan mengunjungi Miranti untuk menghibur dan mengajak jalan-jalan menikmati kebahagiaan di akhir pekan. Dibalik perhatiannya, Dimas ternyata jatuh hati kepada mantan istri kakaknya.

Meski menyadari dirinya mencintai Dimas, Miranti tidak yakin dengan kemurnian cinta Dimas, rasa ragu terus hadir mengusik nurani. Hatinya khawatir perasaan Dimas hanyalah belas kasihan seorang lelaki kepada seorang perempuan yang lemah dengan beban dua anak yang ditanggungnya. Keraguan Miranti tidak bergeser meski Dimas berulang kali membantu dan melindungi dirinya menghadapi berbagai persoalan yang mendera.

Dimas tidak menyerah, ia berusaha keras menjelaskan perasaannya, cintanya adalah murni cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan. Ia meyakinkan, dirinya jatuh cinta kepada Miranti sejak pertama kali menatap wajah lembutnya di bandara. Namun, Miranti tetap bergeming, ia menolak lamaran Dimas untuk menikah dengannya.

Dimas akhirnya menyimpulkan, Miranti menolaknya karena ia adik mantan suaminya, sesuatu yang tidak mampu diubah olehnya. Sebuah keadaan yang hanya bisa diterima tanpa pilihan menolak. Dirinya yang benar-benar mencintai Miranti putus asa dan kecewa, ia terluka, pergi meninggalkan Miranti sendiri dan memastikan tak akan kembali untuk selamanya. Dimas berpamitan berangkat kembali ke Jerman, di tengah guyuran hujan ia berlari meninggalkan Miranti yang berteriak keras mengingatkan agar tidak menjadi seorang pengecut yang lari dari kenyataan.

Menjelang keberangkatanya ke Jerman, di bandara Dimas merenungkan kembali keputusan meninggalkan Miranti. Ia yakin Miranti sesungguhnya mencintai dirinya, dengan pasti ia segera membatalkan keberangkatannya untuk kembali menemui Miranti.

Sementara Miranti sedang menyesali diri karena tidak jujur pada perasaan sendiri, seperti biasa ia terisak menyendiri di dalam kamar, mencurahkan perasaan yang selama ini dipendam jauh dilubuk hatinya. Dengan polos Ia mengakui, dirinya mencintai Dimas dan menyesal telah menyakiti dan membuat pergi meninggalkannya.

Dimas yang berdiri dibalik pintu kamar mendengarkan semua ungkapan hati Miranti yang sesungguhnya. Diam diam ia melangkah mendekati Miranti lalu memeluknya dari belakang. Miranti terkejut, ia begitu gembira sosok yang dicintainya kini berdiri persis dihadapannya. Mereka lantas berpelukan menumpahkan rasa sayang dan bahagia yang tertahan.

Dimas menggendong Miranti keluar kamar. Sanak saudara, orang tua dan keluarga besar dari keduanya telah berkumpul, dengan percaya diri menyungging senyum bangga, di depan mereka Dimas menyatakan akan segera menikahi Miranti.



Pada Festival Film Indonesia 1980, film ini memperoleh penghargaan :

Pemeran Wanita Terbaik : Jenny Rachman
Tata Sinematografi Terbaik : Leo Fiole
Tata Suara Terbaik : Suparman Sidik
Penata Musik Terbaik : Sudharnoto


Jakarta, 8 Juli 2021