Sunday, November 9, 2003

Pusaka Guruku


Saat ingin baik, justru tersiksa. Ketika ingin semua orang menganggapmu baik, kau terbelenggu. Biar, biarkan mereka menilaimu sebagai manusia. Engkau memang bukan dewa atau berhala ! Dipundakmu terbebani dosa, seperti yang manusia lain bawa. Jiwamu terbelah dua.

Perang, setiap saat kau berperang. Engkau berharap menjadi pahlawan dengan darah berlumuran di ujung pedang. Tapi awas nafsu licik dan licin. Saat kau khilaf, ia menikammu dari belakang. Engkau pun tersungkur bersimbah darah. Berbondong bondong mereka menangkapmu berbuat dosa. Hati berbulu ! Jiwa kotor ! Dan sejuta kata lain meluncur tajam dari lidah yang kejam.

Engkau kalah itu wajar. Karena kau dikeroyok pengecut pengecut yang berbalik menyerangmu. Manusia manusia yang menilai dirinya terlalu tinggi karena berharap dianggap mulia. Manusia yang tak mampu melihat dirinya. Manusia manusia munafik yang sudah bertekuk lutut. Budak menghamba nafsu.

Engkau kalah, harus diakui. Engkau terluka, kau rasakan. Tapi jangan lupa, masih kau genggam erat pedang itu. Kau masih sanggup berdiri. Engkau kan bangkit waspada dan berani. Asahlah pedang biar tajam. Dan sebentar lagi kemenangan pastilah menjelang. Kembali ke medan perang dengan menghunus pedang. Kau lihat samping, depan, atas dan belakang. Semua penghianat sudah terlihat. Semua musuh siap kau gasak. Gali saja liang kubur yang banyak karena korban segera berserak. Dari depan, samping, atas dan belakang musuh musuh bergelimpangan. Kini semua musuh terkapar meratap. Kau rebut kembali tahta dirimu. Nafsu menyembahmu. Bersimpuh, mengiba ramuan penyembuh luka. Sedang kau masih tertawa. Menatap kilauan pedangmu. Mengusap pedang kemenanganmu. Pedang ketulusan ! Pusaka dari guruku.


Pulo Nangka, 9 November 2003



Monday, August 18, 2003

Temanku


Malam diantara bintang bintang, gaung ketulusanmu menggema dari masa lalu. Kebaikanmu membuat hatiku malu.

Kau pandang aku dewa, tapi aku tak peduli denganmu. 
Kau letakan diriku dipuncak kemuliaan, tapi aku selalu merendahkanmu. Kau tak perlu diagungkan, kau tak butuh ditinggikan karena kau sudah berdiri kokoh diatas keluhuran. 

Aku yang penuh kotoran berdiri angkuh dihadapanmu, tapi matamu bersinar lembut seolah aku salju tak tersentuh. Hatiku yang penuh kemunafikan, kau pandang seolah kain kafan.  

Lalu kapan ?  
Kapan ?!  
Kau anggap aku sebagai manusia ?  

Aku rasa tidak pernah !


Pulo Nangka, 17 Agustus 2003



Wednesday, August 6, 2003

Hari Itu Jika Datang


Jika hari itu datang
Tak'kan kau menyesal !
Sakit ?
Kau tak rasakan !

Tak kuasa karma merangkulmu
Putus temali ulah baikmu
Berputar samsara tiada gerigi 
Nikmati jalan tanpa kepedihan hati

Lampaui derita dengan tulus 
Peluk bahagia sepenuh hati
Derita tak lagi punya rasa 
Jatuh cinta pada bahagia !

Kau budak Maha Tinggi. Tuan dirimu sendiri !
Bahagia, derita, datang kala kau damba
Kau atasi dirimu. Bertahta atas jiwamu !
Penguasa batin dan kehendakmu !

Hari itu jika datang
Kau bukan manusia lagi !


Pulo Nangka, 5 Agustus 2003


Tuesday, July 22, 2003

Mengelusmu


Ketulusan hilang !
Benarkah selesai, pergi ?
Rinduku merasamu
Mendambaku bersamamu

Dendam , benci !
Sombong , kotor !
Tak sudi jadi kekasihmu
Pergi dari sini !

Bukankah disana kekasih abadi menunggu ?
Mengapa semayam disini ?
Tidak kah tersiksa ?
Apa hatiku sepanas neraka ?

Ketulusan bertandanglah !
Hinggap, singgahlah dalam diam
Siram putihmu, agar dendam meredam
Tabur sucimu, biar benci menggigil

Tidur, tidurlah nyenyak di relung hati
Hingga lelap, pulas mendengkur
Dan sungguh..
Aku kan terus mengelusmu



Pulo Nangka, 22 Juli 2003

Sunday, July 20, 2003

Harapanmu


Setiap berharap padanya, kau seperti mengharap keajaiban. Suatu yang ganjil. Muskil barangkali. Dari hal kecil seperti menunggu bintang jatuh. Hingga terkadang kau pasrah karena nyaris semua harapanmu berakhir di ujung jurang kesiasiaan.

Melelahkan dan menyiksa. Hampir hampir kau memilih terjun ke dalam sana. Bersama gelap mungkin lebih tenang daripada berjalan disisinya. Daripada harus menekan perasaan untuk memenuhi belas kasihan.

Sesak, tapi tak ingin dadamu meledak. Mungkin kau harus merebah kembali mengunjungi rumah lamamu. Kesendirian.

Dia masih menari nari diatas sana. Kau mendamba meraihnya tapi hatimu tak sekuat yang kau kira. Tekadmu tak sebesar rasa cintamu. Kini kau berdiri di tepi jurang itu.

Pasrah, membuka dada, merentangkan tangan, menengadah ke awan. Berharap dia kan melihatmu lalu turun ke bumi, meninggalkan ketinggian hati, merendahkan diri untuk menghampirimu. "Terbang terbanglah kemari !", Begitu harapmu.

Andai itu seperti menunggu bintang jatuh, kau ingin bintang itu segera menimpa kepalamu !


Pulo Nangka, 20 Juli 2003