Tuesday, July 22, 2003
Mengelusmu
Ketulusan hilang !
Benarkah selesai, pergi ?
Rinduku merasamu
Mendambaku bersamamu
Dendam , benci !
Sombong , kotor !
Tak sudi jadi kekasihmu
Pergi dari sini !
Bukankah disana kekasih abadi menunggu ?
Mengapa semayam disini ?
Tidak kah tersiksa ?
Apa hatiku sepanas neraka ?
Ketulusan bertandanglah !
Hinggap, singgahlah dalam diam
Siram putihmu, agar dendam meredam
Tabur sucimu, biar benci menggigil
Tidur, tidurlah nyenyak di relung hati
Hingga lelap, pulas mendengkur
Dan sungguh..
Aku kan terus mengelusmu
Pulo Nangka, 22 Juli 2003
Sunday, July 20, 2003
Harapanmu
Setiap berharap padanya, kau seperti mengharap keajaiban. Suatu yang ganjil. Muskil barangkali. Dari hal kecil seperti menunggu bintang jatuh. Hingga terkadang kau pasrah karena nyaris semua harapanmu berakhir di ujung jurang kesiasiaan.
Melelahkan dan menyiksa. Hampir hampir kau memilih terjun ke dalam sana. Bersama gelap mungkin lebih tenang daripada berjalan disisinya. Daripada harus menekan perasaan untuk memenuhi belas kasihan.
Sesak, tapi tak ingin dadamu meledak. Mungkin kau harus merebah kembali mengunjungi rumah lamamu. Kesendirian.
Dia masih menari nari diatas sana. Kau mendamba meraihnya tapi hatimu tak sekuat yang kau kira. Tekadmu tak sebesar rasa cintamu. Kini kau berdiri di tepi jurang itu.
Pasrah, membuka dada, merentangkan tangan, menengadah ke awan. Berharap dia kan melihatmu lalu turun ke bumi, meninggalkan ketinggian hati, merendahkan diri untuk menghampirimu. "Terbang terbanglah kemari !", Begitu harapmu.
Andai itu seperti menunggu bintang jatuh, kau ingin bintang itu segera menimpa kepalamu !
Pulo Nangka, 20 Juli 2003
Melelahkan dan menyiksa. Hampir hampir kau memilih terjun ke dalam sana. Bersama gelap mungkin lebih tenang daripada berjalan disisinya. Daripada harus menekan perasaan untuk memenuhi belas kasihan.
Sesak, tapi tak ingin dadamu meledak. Mungkin kau harus merebah kembali mengunjungi rumah lamamu. Kesendirian.
Pasrah, membuka dada, merentangkan tangan, menengadah ke awan. Berharap dia kan melihatmu lalu turun ke bumi, meninggalkan ketinggian hati, merendahkan diri untuk menghampirimu. "Terbang terbanglah kemari !", Begitu harapmu.
Andai itu seperti menunggu bintang jatuh, kau ingin bintang itu segera menimpa kepalamu !
Pulo Nangka, 20 Juli 2003
Subscribe to:
Comments (Atom)
