"Berapa bu, semua ?"
"Bayar sekarang ?", ibu itu kembali membalik badan setelah meletakan pesanan di atas meja, wajahnya tampak heran.
"Iya, takut lupa.", jawabku santai.
Aku memang mulai membiasakan diri membayar dimuka, terutama di warung-warung makan kecil dengan penjual ibu-ibu tua. Bukan kenapa, khawatir salah hitung, beberapa kali mengalami di tempat-tempat seperti itu. Lauk pauk terlewati tak terhitung, entah karena jeda yang cukup lama atau karena banyaknya pembeli atau mungkin pula karena daya ingat yang mulai melemah. Entahlah. Saat seperti itu, biasanya aku langsung mengingatkan, setelah itu kunikmati wajah kegembiraan dan senyum ketulusan memancar.
"Makan aja dulu, pa.", ibu itu menyarankan yang biasa ia lakukan, menerima bayaran setelah makanan habis disantap oleh pembeli.
"Gapapa bu, hitung aja.", sepasang mata ibu itu lalu berkeliling menatap satu persatu nasi, lauk-pauk, minuman dan tiga buah batang rokok yang sudah tersaji di atas meja.
"Tiga puluh delapan ribu lima ratus, pa.", ibu itu selesai menghitung, segera aku membuka dompet. Satu lembar dua puluh ribuan, sepuluh ribuan, lima ribuan dan dua lembar uang dua ribuan aku serahkan.
"Ini bu, bonus lima ratus buat ibu."
"Ahh, bapak bisa aja !", ibu itu tersenyum malu. Ia lantas menghitung uang ditangannya.
"iihhh benerrr !"
"ha..ha..ha..", ibu itu tiba-tiba tertawa keras. Kegembiraan terasa lepas di sana.
"Terima kasih yaaa paa.", sambil senyum-senyum sendiri, ibu itu membalikan badan, ia berjalan riang meninggalkanku yang sedang duduk menikmati kebahagiaan yang ia rasakan.
Bekasi, 9 September 2020