Sebelum masuk pokok-pengajaran, bapak itu mengingatkan agar yang hadir di tempat itu tidak-ada kepentingan lain, selain mencari ilmu dan rahmah. Hadirlah dengan hati yang ikhlas dan bersih, niat demi Allah semata. Begitu ujarnya santun penuh bijak.
Hampir semua yang hadir terdiam, beberapa mengangguk kecil. Seseorang di sebelah Pa RT mencolek paha.
"Pa RT tuh !", serta merta Pa RT menoleh, melempar senyum kepadanya. Ia merasa sekedar ledekan dari seseorang yang ia kenal baik.
Ketika memasuki sesi tanya-jawab, bapak itu menutup pengajaran dengan mengingatkan kembali agar yang hadir bebas dari kepentingan.
"Pa RT tuh !", untuk kedua kali Pa RT merasa colekan di paha kirinya namun kali ini tak bergeming.
Beberapa saat kemudian, bapak itu menjawab pertanyaan yang terkait dengan materi. Pa RT hanya ikut menyimak. Dialog berjalan lancar dan memperluas pemahaman.
"Bapak biasanya nanya ?", sepasang mata bapak itu bertemu pandang dengan Pa RT.
"Kali ini ga, Tad."
"Nanti dikira ada kepentingan !", jawab Pa RT sekenanya.
"Ayolah..", bapak itu kemudian membujuk.
"Ga nanya boleh, Tad ?"
"Menyampaikan pendapat aja."
"Silahkan. Gapapa.", bapak itu tersenyum mengelus janggut.
"Tad, menurut saya semua yang hadir di sini, sekarang ini, ada kepentingan. Termasuk Ustad, minimal meyakinkan pemahaman Ustad tentang agama kepada yang hadir, lebih jauh lagi mungkin mencari pengikut. Dakwah atau mungkin juga ada kepentingan lain yang saya ga tau."
"Kalo kepentingan saya, mohon maaf Tad, menjaga lingkungan agar terjaga dari pemahaman sepihak yang diajarkan karena di luar sana juga ada pemahaman yang berbeda-beda. Mungkin Ustad juga tau pandangan-pandangan yang lain itu, kalo Ustad paham tolong disampaikan juga pada yang hadir. Jangan pilah pilih.", Pa RT menyampaikan pendapatnya dengan tenang.
Semua yang hadir terdiam. Bapak itu menyimak dengan seksama, sesekali mengusap keringat dingin di dahinya.
Bekasi, 4 September 2020
No comments:
Post a Comment