Tuesday, April 20, 2021

CINTA DIBALIK NODA


Tiga anak muda dari kota Jogjakarta, bergabung dalam sebuah grup vokal meniti karir dalam dunia musik di Ibu Kota. Rafli (Sandro Tobing), Zaskia (Maya Rumantir), Atika (Meriam Bellina) mereka menjalin ikatan persahabatan, berjuang bersama demi mencapai puncak karir dalam dunia tarik suara yang digeluti.

Seiring naiknya popularitas grup, tumbuh rasa saling mengasihi diantara mereka. Atika diam-diam mencintai Rafli yang juga berprofesi sebagai penyiar radio. Beberapa kali ia berusaha menunjukkan perhatian dan mengungkapkan rasa kepada sahabatnya itu, namun Rafli bersikap acuh tak peduli. Di dalam hati, Atika begitu yakin kelak sahabatnya akan menerima rasa cintanya dan akan memilikinya.

Sambil berbaring di atas tempat tidur, menyendiri dalam kamar, nyaris setiap malam, Atika melampiaskan rasa cintanya dengan mendengarkan suara Rafli melalui siaran radio. Hingga suatu malam ia mendengar ungkapan cinta Rafli kepada Zaskia sahabatnya yang tidak sengaja masuk tersiarkan melalui radio. Atika tersentak, tak percaya, kaget, terpukul dan kecewa menghadapi kenyataan. Rafli ternyata mencintai sahabatnya, ia hanya bertepuk sebelah tangan !

Atika memutuskan keluar dari grup, mereka berpisah meniti karir masing-masing. Atika beralasan beralih karir ke dunia balap motorkros, dunia lain yang digeluti olehnya, sementara dua sahabatnya terus melanjutkan karir di dunia musik dengan mempertahankan grup.

Luka, sakit hati, rasa kecewa, iri dan dengki menghantui kehidupan Atika, karir di dunia balap motor hanyalah pelarian belaka untuk melampiaskan kemarahan hatinya. Atika mulai kehilangan rasa percaya diri dan berubah menjadi sosok yang lemah dan rapuh.

Eros (Abubakarsyah Boetje) yang sadar potensi dan mengikuti perjalanan karir sejak awal memanfaatkan kondisi itu untuk mengeksploitasi Atika. Ia mendekati Atika lalu menawarkan diri membantu untuk bersolo karir. Karir Atika di dunia musik, selanjutnya dibangun bersama Eros dengan ambisi menyaingi mantan grupnya. Popularitas Atika kian bertambah kuat namun lambat laun Eros menariknya masuk ke dalam lingkaran setan dunia kegelapan.

Atika lantas terjebak dalam dunia obat-obatan, minuman, pergaulan bebas dan prostitusi. Atika kehilangan dirinya, ia terombang ambing kehidupan yang rumit, hingga suatu peristiwa perampokan yang dilakukan oleh Eros dan gerombolannya, melibatkan dirinya. Ia ditangkap polisi, kemudian dilempar ke dalam ruang rehabilitasi. Atika berada dalam titik terendah kehidupannya.

Rafli yang merasa iba dan sayang sebagai sahabat bermaksud membantu Atika keluar dari penderitaan. Ia menjaga, mengurus dan merawat Atika selama melakukan proses rehabilitasi.

Waktu berjalan, perhatian tulus Rafli kepada Atika membuat hubungan dengan Zaskia retak. Sebagai kekasih Zaskia merasa diabaikan sementara Rafli justru menuntut agar merelakan dirinya untuk meluangkan sedikit waktu membantu Atika yang sedang tak berdaya dan sangat butuh pertolongan. Zaskia merasa tersudut dan dipaksa menentukan pilihan, dengan berat hati akhirnya ia memilih lelaki lain yang sabar mendekatinya dan meninggalkan Rafli sendiri.

Rafli membalik badan, ia berjalan kembali menuju ruangan perawatan Atika, duduk di samping ranjang, di depan tatapan kosong, wajah yang pasi, bibir pucat dengan tubuh kurus terbaring lemah, Rafli berjanji menunggu Atika sembuh dan memutuskan mencintainya meski ia tahu wanita yang dihadapannya penuh noda dan mungkin dosa !

.

Film ini mengantar Meriam Bellina mendapat penghargaan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 1984 di Jogjakarta.


Jakarta, 17 April 2021


Saturday, April 3, 2021

Mimpi


Menembus embun pagi, ia mendekati seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon menunggu matahari. Langkahnya bingung, ragu. Sebentar ia memutar badan, berbalik arah, lalu kembali membalik badan memberanikan diri, derap kakinya cemas bergerak memburu.

Dekat, ia berhenti di depan lelaki tua yang menunduk duduk sendiri. Tongkat ditangannya terus menggores gores tanah.

"Tadi malam, aku bermimpi !", sapanya kikuk.

"Lalu ?", lelaki tua itu hanya menatap kakinya.

"Yahh, aku dimakamkan sendiri !"
"Mereka memasukkan mayatku ke liang."
"Menimbun dengan riang, lalu ringan meninggalku !"
"Tak seorangpun mengantar dan menungguku !"

"Terus, kenapa dengan mimpimu ?", mata lelaki tua itu merayap pelan menaiki tubuhnya. Ia mendongak.

"Aku takut !", gelisah suaranya terdengar gemetar.
Diam mereka saling bertatapan. Dua pasang mata bertemu kaku. Wajahnya terus menunggu, menghiba, berharap petuah meluncur dari mulut lelaki tua itu.

Tertatih lelaki tua itu bangkit, diangkatnya tongkat, menekan, mendorong dorong bahu kiri sosok yang nenghalangi jalannya. Susah payah ia menyingkirkan tubuh kurus dihadapannya. Lelaki tua itu melintas disampingnya, sekejap kemudian menahan langkah, matanya melirik merendahkan, mulutnya mendekat ketelinga, lidahnya menjulur mengejek.

"Kau bukan takut mati sendiri !"
"Kau takut tak dihormati !"

Lelaki tua itu berlalu meninggalkannya begitu saja. Ia terus berjalan lurus, tanpa memaling ia acuh menjauh tak peduli.



Bekasi, 14 April 2021