Saturday, April 3, 2021

Mimpi


Menembus embun pagi, ia mendekati seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon menunggu matahari. Langkahnya bingung, ragu. Sebentar ia memutar badan, berbalik arah, lalu kembali membalik badan memberanikan diri, derap kakinya cemas bergerak memburu.

Dekat, ia berhenti di depan lelaki tua yang menunduk duduk sendiri. Tongkat ditangannya terus menggores gores tanah.

"Tadi malam, aku bermimpi !", sapanya kikuk.

"Lalu ?", lelaki tua itu hanya menatap kakinya.

"Yahh, aku dimakamkan sendiri !"
"Mereka memasukkan mayatku ke liang."
"Menimbun dengan riang, lalu ringan meninggalku !"
"Tak seorangpun mengantar dan menungguku !"

"Terus, kenapa dengan mimpimu ?", mata lelaki tua itu merayap pelan menaiki tubuhnya. Ia mendongak.

"Aku takut !", gelisah suaranya terdengar gemetar.
Diam mereka saling bertatapan. Dua pasang mata bertemu kaku. Wajahnya terus menunggu, menghiba, berharap petuah meluncur dari mulut lelaki tua itu.

Tertatih lelaki tua itu bangkit, diangkatnya tongkat, menekan, mendorong dorong bahu kiri sosok yang nenghalangi jalannya. Susah payah ia menyingkirkan tubuh kurus dihadapannya. Lelaki tua itu melintas disampingnya, sekejap kemudian menahan langkah, matanya melirik merendahkan, mulutnya mendekat ketelinga, lidahnya menjulur mengejek.

"Kau bukan takut mati sendiri !"
"Kau takut tak dihormati !"

Lelaki tua itu berlalu meninggalkannya begitu saja. Ia terus berjalan lurus, tanpa memaling ia acuh menjauh tak peduli.



Bekasi, 14 April 2021



No comments:

Post a Comment