Pada bagian awal, pembaca mengikuti dunia kehidupan seorang anak perempuan berumur menjelang 15 tahun bernama Sophie Amundsen. Ia tinggal di daerah pinggiran kota, cukup jauh dari tempat sekolahnya. Di dekat rumah terdapat hutan dan tidak ada rumah lain di sebelahnya. Rumah Sophie seperti berada di ujung dunia.
Ayahnya seorang pelayar yang sering berpergian jauh meninggalkan Sophie bersama Ibunya dalam waktu yang cukup lama. Saat merasa resah Sophie biasa menyendiri, bersembunyi di dalam sarang rahasia miliknya, sebuah tempat berupa rongga di sela semak belukar yang menjadi pagar hidup mengelilingi rumahnya.
Sophie yang masih duduk dibangku sekolah, tiba-tiba mendapat kiriman surat-surat aneh dengan amplop tanpa pengirim, tanpa stempel pos dan tanpa perangko dari seorang yang misterius melalui cara yang misterius pula.
Amplop pertama diterima dengan namanya tercantum jelas di bagian depan, di dalamnya berisi secarik kertas bertuliskan : “Siapakah kamu ?” dengan tanda tanya yang besar.
Pada hari yang sama, datang surat kedua berikutnya berisi tulisan : “Dari mana datangnya dunia ?”
Pertanyaan beruntun yang datang mengejutkan, memaksanya merenung dan berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya selama ini.
Amplop ketiga yang diletakkan di dalam kotak-surat sangat membuatnya penasaran.
Surat datang dari seorang Ayah yang ditujukan kepada puterinya yang berulang tahun ke 15 tepat sebulan sebelum tanggal kelahiran Sophie sendiri. Anak itu bernama Hilde Moller Knag yang tidak dikenalnya sama sekali. Pada sampul depan amplop tertulis d/a Sophie Amundsen juga alamat rumahnya yang tertera jelas. Surat berisi ucapan selamat ulang tahun, juga pemberitahuan bahwa sang Ayah memberi sebuah hadiah yang akan membantunya berkembang melewati masa-masa kehidupan. Tak lupa ia meminta maaf karena mengirim surat itu ke alamat Sophie.
Surat keempat, dikeluarkan dari amplop besar berwarna coklat, pada bagian belakang amplop tertulis : “Pelajaran Filsafat. Hati-hati !”
Di dalamnya berisi tiga halaman ketikan yang disatukan dengan penjepit kertas. Lembaran-lembaran berisi uraian sebuah pengantar untuk memahami filsafat, membahas apa pengertian filsafat serta bagaimana manusia menghadapi dan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan. Bagaimana dunia diciptakan ? Adakah kehendak atau makna dibalik apa yang terjadi ? Adakah kehidupan setelah kematian ? Dan yang paling penting adalah pertanyaan, Bagaimana seharusnya kita hidup ?
Sejak itu, Sophie menerima pelajaran filsafat dari seorang guru yang misterius.
Hari berganti hari, amplop-amplop besar mengalir mengisi kotak-surat di rumahnya. Isi surat merupakan rangkaian pelajaran filsafat yang disampaikan bagian demi bagian. Diawali dengan uraian mengapa manusia berfilsafat kemudian menjelaskan era mitologi lalu masuk ke era dimana sejarah pemikiran filsafat dimulai.
Melalui surat rahasia, sang guru-misterius memberi penjelasan tentang para filosof dan pemikirannya yang hidup dalam latar kebudayaan dan era yang berbeda-beda. Secara bertahap ia membimbing Sophie memahami filsafat, memandunya dengan menelusuri jalur panjang sejarah perkembangan pemikiran filsafat dari para filosof terkemuka. Mulai dari jaman Yunani sekitar tahun 700 SM dimana sejarah filsafat dimulai hingga jaman modern, masa ia menjalani kehidupan pada saat itu.
Sophie memilih belajar diam-diam. Surat-surat dibacanya dengan sembunyi-sembunyi dalam kamar atau menyendiri dalam sarang rahasia tanpa sepengetahuan ibunya. Setelah selesai, lembar demi lembar dikumpulkan secara teratur dalam sebuah kaleng lalu dilubangi dan disusun kembali berurutan sesuai halaman menggunakan penjilid cincin.
Sikap sang guru yang tidak juga menampakan diri mengusik rasa ingin tahunya. Sophie mulai mengawasi dan menyelidiki pola bagaimana surat-surat itu berada di dalam kotak surat di rumahnya. Dari jendela kamar atasnya, pada suatu malam, ia sempat memergoki si pengirim surat misterius menyelinap, memasukan amplop ke dalam kotak-surat. Sophie bergegas turun, berusaha mengejar namun ia tertinggal, lelaki itu berlari cepat menghilang ke arah hutan.
Setelah peristiwa itu, surat-surat dikirim melalui utusan seekor anjing labrador bernama Hermes, binatang peliharaan kesayangan sang guru-misterius. Surat terkadang ditaruh begitu saja di tangga rumahnya, kadang Hermes meletakkan di dalam sarang rahasianya, kadang pula Sophie langsung memungut surat dari mulut Hermes yang menghampirinya.
Demi memuaskan rasa penasaran, Sophie memberanikan diri mengikuti dan menyusuri jejak kaki Hermes. Ia berjalan melewati hutan, mendayung biduk menyeberangi danau, sampai pada akhirnya memasuki gubuk kecil dengan suasana aneh tanpa bertemu penghuninya. Niat Sophie untuk bertemu gurunya tertunda karena kemauan sang guru yang berjanji, akan segera menemuinya pada waktu yang tepat.
Melalui Hermes, sang guru kemudian mengirimnya sebuah kaset video. Sambil menjelaskan tentang Acropolish dan Athena, melalui tayangan video, guru-misterius itu memperkenalkan diri sebagai Alberto Knox. Perkiraan umur, ukuran tubuh, garis wajah yang khas dengan janggut lancip dan topi baret di kepalanya mengingatkan Sophie pada sosok yang dilihatnya pada malam itu dari jendela kamar atasnya.
Alberto Knox tinggal sendirian menempati sebuah gubuk kayu kecil di pinggiran hutan di seberang danau. Tempat yang dikenal dengan gubuk-sang-mayor karena beberapa tahun silam pernah tinggal seorang mayor angkatan bersenjata di sana untuk beberapa lama. Seorang lelaki paruh baya yang menurut ibunya agak eksentrik dan sedikit sinting.
Pelajaran selanjutnya dilakukan melalui janji lewat telepon dan pertemuan langsung dengan sang guru yang dipanggilnya Alberto. Penjelasan sederhana dengan cara yang unik, melalui dialog dan tanya jawab membuat Sophie yang bukan anak-anak lagi namun belum dewasa mampu menangkap gagasan-gagasan filsafat dari berbagai tokoh pemikir dengan mudah. Pada saat yang sama ia berupaya memahami realitas dunia kehidupan yang sedang dijalani pada saat itu.
Sophie memburu penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa tidak masuk akal yang seringkali menimpanya. Sejumlah peristiwa membuat keningnya berkerut, mengapa dirinya bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal dari dunia dongeng yang tiba-tiba muncul begitu saja. Bahkan ia sempat dikunjungi Nabi Nuh yang memegang tongkat, dengan penampilan rambut panjang dan jenggot putihnya.
Sembari memberi materi pelajaran, Alberto perlahan menuntun muridnya memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam realitas dunia yang sedang dialami oleh mereka.
Sedikit demi sedikit Alberto mengungkap bahwa kehidupan yang sedang dijalani oleh Sophie dan dirinya, semuanya dibawah kendali sang-mayor. Tidak ada suatupun yang luput dari pengetahuannya. Apapun yang ada dan terjadi dalam dunia mereka, semua adalah atas ijin dan kehendak sang-mayor.
Alberto menjelaskan, mereka sebenarnya tengah berada di dalam realitas rekaan yang diciptakan oleh sang-mayor. Eksistensi mereka sesungguhnya hanyalah cerita yang dikarang melalui pikiran sang-mayor. Mereka dan seluruh yang ada di dunia bersama mereka adalah realitas rekaan di balik kata-kata dalam sebuah cerita panjang yang disusun. Pikiran yang terus bergerak dan direalisasikan menjadi tulisan, rangkaian kata dan kalimat, melalui susunan huruf demi huruf dari mesin ketik yang diketuk oleh jari jemari sang-mayor. Dunia yang sedang dialami mereka, pada hakekatnya adalah dunia pikiran sang-mayor dan mereka menjalani hidup di dalamnya, terkurung dalam belenggu mental pikiran sang-mayor.
Melalui pemahaman filsafat, Alberto menyadarkan Sophie bahwa eksistensi mereka memiliki kekuatan untuk menentukan diri. Pada eksistensi mereka, melekat kehendak bebas untuk memutuskan sebuah pilihan. Apakah terus menjalani hidup dalam belenggu mental ataukah keluar dari belenggu yang sedang mengurung kehidupan mereka. Alberto dan Sophie bersepakat memberontak melawan sang-mayor, mereka memutuskan dan berkehendak membebaskan diri, lepas dari belenggu mental pikiran sang-mayor.
Segera Alberto menyusun rencana rahasia untuk keluar dari dunia pikiran sang-mayor. Sophie dituntut untuk patuh pada semua perintahnya agar rencana berhasil dan tidak diketahui sang-mayor. Mereka akan melakukan aksi menyelinap melalui sebuah peristiwa ketika acara puncak memperingati hari ulang tahun Sophie yang disebut Pesta Taman Filsafat.
Namun, siapakah sebenarnya sang-mayor ? Siapa pula Hilde Moller Knag ? Keduanya masih misteri dan Sophie ingin memuaskan rasa ingin tahunya.
.
Memasuki paruh kedua, sudut pandang pembaca dialihkan menuju realitas dunia nyata kehidupan seorang anak gadis bernama Hilde Moller Knag, yang baru saja terbangun dari tidur lalu menyadari bahwa hari itu tanggal 15 Juni adalah hari ulang tahunnya yang ke 15.
Hilde mendapati bungkusan besar, berwarna biru dengan ikat pita sutera berwarna merah di atas meja dekat tempat tidurnya. Sebuah pesan yang menempel dibacanya : “Untuk Hilde pada hari ulang tahunnya yang ke 15 dari Ayah.”
Saat itu Hilde tinggal berdua bersama Ibunya. Ayahnya sedang menjalankan tugas di Libanon sebagai anggota batalyon pengamat perdamaian PBB dari Norwegia. Ayahnya yang berpangkat mayor rajin mengirimnya kartu ucapan. Dari seberang, ia memberitahu akan segera pulang saat pertengahan musim panas ini dan berjanji mengirim hadiah tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 15. Hari ini Hilde menerima hadiah itu.
Duduk di atas tempat tidur, Hilde membuka bungkusan dengan hati-hati. Di dalamnya ditemukan map besar yang dipenuhi lembaran-lembaran kertas ketikan, seperti sebuah buku. Ketikan-ketikan yang ia kenal berasal dari mesin ketik kecil Ayahnya yang dibawa ketika berangkat ke Libanon.
Pada halaman pertama tertulis judul buku dengan huruf besar : DUNIA SOPHIE.
Di bagian bawah halaman itu terdapat cuplikan dua baris puisi :
PENCERAHAN SEJATI BAGI MANUSIA
ADALAH SEPERTI MATAHARI MENYINARI BUMI
---N.F.S Grundtvig
Hilde melanjutkan membuka halaman berikutnya lembar demi lembar. Ia mulai membaca sebuah buku cerita tentang seorang anak perempuan bernama Sophie Amundsen yang menerima pelajaran filsafat dari seorang guru-misterius.
Selain mengenal seorang gadis seusianya bernama Sophie, melalui buku karya Ayahnya, Hilde memperoleh pelajaran filsafat dari tokoh rekaan dalam cerita itu. Hilde memahami filsafat dari surat-surat yang diterima Sophie dan percakapannya dengan lelaki berjanggut lancip dengan topi baret dikepalanya bernama Alberto Knox. Dalam cerita, Alberto yang memberi pelajaran filsafat dan membimbing Sophie memahami realitas kehidupan.
Hilde hanyut dalam cerita yang dibacanya, ia membayangkan dirinya menjadi Sophie dalam cerita itu. Ia dapat mengerti betapa bingungnya Sophie mengalami banyak hal aneh yang tidak dapat dijelaskan akal, juga dengan tokoh-tokoh dongeng yang tiba-tiba muncul bertemu dengannya.
Pada saat yang sama, Hilde mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa semua peristiwa aneh dan tokoh-tokoh dongeng itu hanyalah kejailan imajinasi dari pikiran Ayahnya yang dituangkan dalam kata-kata dan rangkaian kalimat ketika Ayahnya mengetik cerita yang sedang dibacanya.
Andai saja bisa, Hilde ingin segera bertatap muka dengan Sophie untuk menjelaskan hakekat kenyataan dan kebenaran sejati tentang dunia dan kehidupan Sophie, juga dengan semua persoalan keanehan yang dialaminya.
Hilde dapat memahami, di dalam dunia mereka, dimata Sophie dan Alberto, Ayahnya seperti Tuhan bagi dirinya yang sedang berada di dunia nyata. Ia mahakuasa dan mengetahui segalanya. Agar cerita menjadi menarik, apapun yang dikehendaki bisa saja ditulis oleh Ayahnya dan itu menyangkut jalannya cerita, nasib Sophie dan semua peristiwa yang terjadi hingga berakhirnya cerita.
Hilde benar-benar menghayati dan tenggelam dalam cerita yang melibatkan dirinya, namun ia juga meyadari cerita itu hanyalah rekaan Ayahnya. Dunia dan kehidupan Sophie realitas rekaan semata.
.
Pada bagian sepertiga akhir, di satu sisi, sudut pandang pembaca diarahkan kepada realitas dunia nyata dimana Hilde telah selesai membaca buku cerita yang dikirim Ayahnya. Sementara Ayahnya telah berangkat meninggalkan Libanon dan tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah untuk bertemu istri dan putri tercintanya.
Cerita yang ditulis Ayahnya ditutup dengan berlangsungnya acara Pesta Taman Filsafat, seminggu setelah tanggal kelahiran Sophie untuk memperingati hari ulang tahunnya ke 15. Alberto diundang dan diberi kesempatan memberi pidato filsafat yang mengejutkan para tamu.
Pada awal pidatonya Alberto menyatakan, ia dan Sophie telah melakukan penyelidikan filsafat besar-besaran. Kini saatnya untuk mengungkap penemuan tentang rahasia terdalam dari eksistensi mereka.
Setelah melakukan telaah mendalam, mulai dari filosof Yunani pertama hingga para filosof masa kini. Mereka mendapati bahwa mereka menjalani kehidupan dalam pikiran sang-mayor, yang saat ini sedang bertugas di Libanon. Sang-mayor juga telah menulis buku cerita tentang dirinya dan Sophie untuk puterinya. Puterinya bernama Hilde Moller Knag, yang berusia 15 tahun tepat pada hari yang sama ketika Sophie berulang tahun ke 15. Buku itu terletak di atas meja, di samping tempat tidurnya ketika bangun tidur pada hari ulang tahunnya tanggal 15 Juni. Tepatnya buku itu berbentuk map besar. Bahkan ketika kita sedang bicara sekarang ini, Hilde dapat menyentuh halaman terakhir dengan jari telunjuknya. Alberto mulai berpidato di depan para tamu.
Eksistensi kita oleh karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hadiah hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag. Kita semua telah diciptakan sebagai kerangka pendidikan filsafat untuk puteri sang-mayor. Ini berarti, Mercedes putih di gerbang itu, misalnya, tidak bernilai satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tidak lebih dari Mercedes putih yang hanya berputar-putar di dalam kepala seorang mayor PBB yang malang, yang pada saat ini juga sedang duduk di bawah bayang-bayang sebuah pohon palm agar terhindar dari serangan panas matahari. Siang hari sangat panas di Libanon, kawan-kawanku !
Pesta taman ini sesungguhnya merupakan omong kosong belaka. Satu-satunya pikiran waras dalam seluruh pesta ini adalah pidato ini ! Alberto terus melanjutkan pidatonya.
Tidak banyak lagi yang dapat dikatakan jika sudah menyadari bahwa kita semua hanyalah imaji mimpi dalam kesadaran seseorang yang sedang terkantuk-kantuk. Kita semua tidak lain hanyalah bayang-bayang. Sophie dan aku, bagaimanapun juga, akan meninggalkan pesta ini. Jika waktunya telah tiba kami akan menghilang. Begitulah kami akan menyelinap keluar dari alam kesadaran sang-mayor. Alberto menutup pidatonya.
Sophie berpamitan pada ibunya yang mengijinkan ia pergi untuk selamanya. Tidak lama berselang, pesta mendadak berubah kacau oleh peristiwa-peristiwa aneh. Mesin mobil Mercedes putih tiba-tiba hidup dikendarai oleh seorang pemuda yang datang entah darimana. Mobil melesat melampaui gerbang, melewati jalan kerikil masuk ke dalam taman. Ambang kematian ! Begitu Alberto bergumam sendiri lalu menarik tangan Sophie, menyeret bersamanya berlari ke arah pagar tanaman. Sekarang waktu yang tepat untuk menyelinap keluar dari pikiran sang-mayor, Alberto memutuskan. Dan pada saat yang sama mobil Mercedes putih menabrak sebuah pohon apel.
Alberto dan Sophie terus berlari menuju gubuk-sang-mayor, Alberto membuka pintu rahasia di lantai, ia mendorong Sophie masuk ke dalam gudang bawah tanah. Lalu segalanya berubah menjadi gelap.
Setelah mobil menabrak pohon apel, pesta pun usai, Ibunya dan para tamu hanya mengetahui Alberto dan Sophie menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan udara.
Buku cerita yang dibaca oleh Hilde berakhir.
.
Di sisi yang lain, sudut pandang pembaca diarahkan mengikuti perjalanan Sophie dan Alberto selanjutnya, setelah memasuki lorong gelap di gudang bawah tanah gubuk-sang-mayor.
Alberto menjelaskan kepada Sophie bagaimana mereka bisa keluar dari kesadaran pikiran sang-mayor. Mereka berhasil melepaskan diri dari belenggu mental pikiran sang-mayor dan keluar meninggalkan realitas dunia rekaan lalu memasuki dunia yang lain.
Sekarang mereka berada di dalam realitas dunia lain yang disebut dunia kekekalan. Sophie dan Alberto kini menjalani hidup dalam dunia baru yang sangat berbeda dengan dunia rekaan sang-mayor dan dunia nyata dimana Hilde sedang termenung menunggu kedatangan Ayahnya.
Alberto memenuhi rasa penasaran Sophie yang ingin mengetahui apa yang terjadi ketika sang-mayor bertemu dengan puterinya. Mereka lalu bergerak menuju ke sebuah rumah yang ditempati Hilde. Dari dunia lain, Alberto dan Sophie menyaksikan kehidupan sebuah keluarga.
.
Pada bagian akhir, sudut pandang pembaca diarahkan mengikuti secara bergantian antara Alberto dan Sophie yang berada di dunia lain dan Hilde dan Ayahnya yang sedang mengalami dunia nyata. Dua dunia berbeda yang berinteraksi.
Sophie yang berada di dunia lain melihat Hilde duduk di dok di pinggir perairan sedang menyendiri, gelisah menunggu kedatangan Ayahnya. Ia mendatangi Hilde lalu duduk di sampingnya. Sophie menyapanya, berusaha mengajaknya berbicara namun Hilde yang berada di dunia nyata tampak tidak mendengar dan melihatnya.
Sementara Hilde pada saat itu merasa ada tarikan nafas samar-samar di dekatnya, entah apa, ia merasa sesuatu hadir menemani kesendiriannya. Ia tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang memanggil namanya dari kejauhan, Hilde bangkit berlari menuju seorang lelaki yang berdiri di taman. Lelaki itu tidak lain sang-mayor, Ayah Hilde bernama Albert Knag yang baru saja tiba dari Libanon. Sophie menyaksikan bagaimana Hilde begitu gembira dipelukan Ayahnya, diangkat dan mereka berputar-putar.
Alberto lantas menjelaskan bahwa dunia mereka saat ini adalah dunia yang dihuni oleh mahluk-mahluk tidak kasatmata. Dulu mereka yang tidak bisa campur tangan, merasakan, mendengar dan melihat dunia nyata yang dialami sang-mayor dan puterinya, sekarang Hilde dan Ayahnya yang tidak bisa campur tangan, melihat, merasakan dan mendengar dunia mereka.
Setelah makan malam, mereka duduk berdua di taman. Sambil menikmati malam, Ayahnya melanjutkan pelajaran filsafat yang tersisa. Kali ini Hilde menerima pelajaran filsafat langsung dari Ayahnya dengan tema-tema asal mula kehidupan dan terbentuknya alam raya, dentuman besar, bintang-bintang, bumi, planet-planet, galaksi juga dunia lain dan tema-tema filsafat yang tidak sempat disampaikan melalui buku cerita.
Sementara dari dunia lain, Alberto dan Sophie turut mendengarkan dan mengamati mereka.
Setelah Ayahnya menutup penjelasan, Hilde menanyakan tentang Alberto dan rencana rahasianya pada buku cerita yang dibacanya. Dengan tenang, Ayahnya menjawab bahwa akhir cerita menghilangnya Alberto dan Sophie begitu saja hanyalah sebuah cerita yang harus berhenti di suatu tempat. Itu hanyalah sesuatu yang ditulisnya. Sama sekali tidak berarti bahwa ada peristiwa setelahnya, misalnya mereka sekarang ada di sini.
Dari dunia lain, kembali Sophie berjalan mendekati dan berdiri persis dihadapan mereka, pertama-tama ia berusaha menarik perhatian Hilde tapi sia-sia. Ia kemudian memukul kening Hilde dengan kunci inggris yang diambil dari mobil yang mengantarnya ke rumah itu. Hilde bereaksi mengaduh dan merasa seperti tersengat serangga.
Apakah kamu percaya mereka ada di sini, Hilde ?
Ayahnya tiba-tiba bertanya lembut.
Aku dapat merasakannya Ayah !
Sang-mayor langsung memeluk puterinya, mendekapnya erat-erat.
Jakarta, 30 Agustus 2021