Sejumlah film dengan tema kehidupan remaja mendapat sambutan baik dari masyarakat. Film yang berkisah tentang cinta kasih sepasang remaja di bangku sekolah disukai dan menarik jutaan penonton. Berhasil secara komersial juga berpengaruh secara sosial terhadap kehidupan remaja pada masanya.
Tiga film yang cukup menonjol bisa disebut Gita Cinta Dari SMA, Ada Apa Dengan Cinta dan Dilan 1990.
Salah satu karakteristik film itu, menampilkan tokoh utama pria sebagai sosok yang cerdas, dengan penampilan fisik menarik, yang juga menghayati hidup dalam dunia lain dengan intens.
Sebagai pelajar dalam dunia keseharian sekolah, sang tokoh memiliki prestasi menonjol dalam bidang akademis, namun di luar hal-hal formal, dalam pergaulan sosial dengan teman-teman sekolahnya cenderung ditampilkan tersisih dan terpinggirkan.
Tokoh utama pria cenderung digambarkan dengan karakter pendiam, tertutup, penyendiri, pemalu atau kurang percaya diri, karakter yang sangat kontras dengan keceriaan dunia sekolah. Ia seolah memiliki dunia lain yang terpisah, tenggelam dan menyelami dunianya sendiri yang membuat pribadinya menjadi menarik dan unik.
Galih dalam film Gita Cinta Dari SMA, selain berprestasi secara akademis, menampilkan sosok yang canggung, pemalu dan sedikit rendah diri karena latar belakang ekonomi keluarga yang sederhana. Dibanding teman-teman sekolahnya yang bangga membawa mobil pribadi ke sekolah atau mengendarai sepeda motor (vespa) dengan penuh percaya diri, Galih harus berkali-kali mengusap wajah murungnya yang berkeringat mengayuh sepeda usang untuk sampai di sekolah. Kadang ia terpaksa terlambat masuk kelas karena bersusah payah memasang rantai sepeda yang terlepas di tengah jalan.
Di luar dunia sekolah, Galih gemar memainkan gitar dan bernyanyi, dunia seni musik dihayatinya untuk merasakan denyut kehidupan. Tak jarang ia menyendiri, menumpahkan gelisah dan rasa gundah dengan mencipta lagu dan bernyanyi. Selepas SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan seni untuk mengejar masa depannya. Kelak Galih mencapai puncak popularitas di dunia seni musik menjadi idola para remaja sebagai penyanyi dan pencipta lagu. Dunia seni yang kemudian mempertemukan dan menyatukan cintanya kembali dengan Ratna.
Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta merupakan sosok yang introvert dan sensitif, pendiam, penyendiri, cuek, ketus sekaligus agak sinis. Ia bersikap tertutup karena latar belakang kehidupan keluarganya yang suram. Ibu dan saudaranya meninggalkan sang ayah dan dirinya karena sikap idealis yang dipegang kukuh oleh ayahnya.
Ia jelas digambarkan tidak berbaur dengan keceriaan teman-teman sekolahnya, sering terlihat murung, berjalan sendirian, memisahkan diri dari riuh rendahnya suasana sekolah. Rangga lebih dekat dengan Pak Wardiman penjaga sekolahnya dan Pak Limbong seorang tua penjual buku bekas langganannya di Kwitang daripada bergaul akrab dengan teman-teman sebayanya.
Disisi lain, Rangga asyik menghayati dunianya sendiri. Ia menyukai seni sastra berkelas, yang jarang diminati para remaja seusianya. Teman-temannya lebih umum menikmati hidup dengan ringan, berkumpul bersama melalui waktu dengan canda, tawa dan bergembira. Sementara Rangga memilih menghindar dari pergaulan, menyingkir, menjauhkan diri dengan membaca buku, menuliskan perasaan dan tenggelam dalam dunia seni sastra yang digelutinya.
Cinta yang memimpin majalah dinding di sekolahnya dan menyukai puisi, seketika terperanjat ketika Rangga mengalahkannya dalam lomba karya puisi di sekolahnya. Ia kian merasa direndahkan ketika bertemu langsung dengan Rangga yang menolak diwawancarai. Di hadapannya Rangga bergaya pongah meremehkan penghargaan dari lingkungan sosialnya. Dengan sinis Rangga menyatakan tidak ikut perlombaan karena merasa tidak mengirim karyanya ke panitia lomba puisi itu.
Kepribadian yang jarang ditemui membuat Cinta ingin mengenal lebih dalam. Melalui tulisan bait-bait puisi dan sebuah buku sastra yang dibaca Rangga, hubungan mereka terjalin kian dekat. Sekali waktu, mereka menyempatkan diri menikmati dunia seni dengan mengunjungi sebuah kafe. Diiringi petikan gitar, di atas panggung, Cinta membaca puisi karya Rangga yang membuat para pengujung riuh bertepuk tangan.
Cinta kemudian tersadar, dirinya baru menyentuh permukaan dunia sastra yang begitu dalam dan luas. Di dalam hatinya mulai tumbuh perasaan kagum dan tertarik pada Rangga, yang menurut penilaian awalnya menyebalkan, sok keren dan suka menyakiti. Sosok tak terduga, yang justru menyeretnya jauh ke dalam dunia yang dipenuhi keindahan. Dunia yang mempertemukan mereka, membuat saling tertarik dan jatuh cinta, dunia seni sastra.
Dalam film Dilan 1990, Dilan digambarkan dengan sosok yang kurang stabil, agak aneh dan rumit. Ia terkesan pendiam dan murung namun mudah tersenyum dan tertawa, kadang tampak konyol berlebihan dan lucu tapi gampang naik darah, meledak-ledak tak terkendali. Ia seorang pelajar cerdas yang terpilih mewakili sekolahnya dalam perlombaan cerdas cermat.
Di sekolah, ia berbaur seperti biasa dengan teman-temannya, berkumpul bersama menghabiskan waktu jam-jam istirahat pelajaran di kantin. Dilan bukan sosok yang menghindar dari pergaulan. Ia setia kawan, di luar dunia sekolah ia memiliki eksistensi, menjadi panglima tempur geng motor yang dihormati dan ditakuti.
Dilan yang kerempeng menyimpan keberanian dan memegang prinsip kuat sebagai seorang lelaki. Tubuhnya yang kurus mendadak bisa berubah menjadi seekor singa garang yang siap melampiaskan kebuasan ketika berurusan dengan kehormatan, komitmen dan menghadapi sikap ketidakadilan yang merendahkan harga diri.
Dibalik gaya bicara yang puitis super hiperbolis seperti dibuat-buat, Dilan ternyata benar-benar menyukai seni sastra. Sebuah buku berisikan bait-bait puisi ditunjukkan ibundanya kepada Milea ketika bersama-sama membersihkan kamarnya yang berantakan. Dalam hening tengah malam, lembar demi lembar, berdua mereka menikmati buku puisi yang ditemukan tergeletak diantara tumpukan berbagai jenis buku koleksinya yang berjejer begitu banyak dalam kamarnya.
Selain dunia petualangan lelaki yang dijalani, diam-diam Dilan merangkai keindahan kata demi kata, menuliskan perasaan tentang dunianya, pengalaman hidupnya dan Milea yang dicintainya. Dalam kesendirian Dilan menyelami, menggeluti dan menghayati dunia lain, dunia seni sastra.
Jakarta, 25 Agustus 2021
No comments:
Post a Comment