Sunday, August 29, 2021

DUNIA SOPHIE : Jostein Gaarder


Pada bagian awal, pembaca mengikuti dunia kehidupan seorang anak perempuan berumur menjelang 15 tahun bernama Sophie Amundsen. Ia tinggal di daerah pinggiran kota, cukup jauh dari tempat sekolahnya. Di dekat rumah terdapat hutan dan tidak ada rumah lain di sebelahnya. Rumah Sophie seperti berada di ujung dunia.

Ayahnya seorang pelayar yang sering berpergian jauh meninggalkan Sophie bersama Ibunya dalam waktu yang cukup lama. Saat merasa resah Sophie biasa menyendiri, bersembunyi di dalam sarang rahasia miliknya, sebuah tempat berupa rongga di sela semak belukar yang menjadi pagar hidup mengelilingi rumahnya.

Sophie yang masih duduk dibangku sekolah, tiba-tiba mendapat kiriman surat-surat aneh dengan amplop tanpa pengirim, tanpa stempel pos dan tanpa perangko dari seorang yang misterius melalui cara yang misterius pula.

Amplop pertama diterima dengan namanya tercantum jelas di bagian depan, di dalamnya berisi secarik kertas bertuliskan : “Siapakah kamu ?” dengan tanda tanya yang besar.

Pada hari yang sama, datang surat kedua berikutnya berisi tulisan : “Dari mana datangnya dunia ?”

Pertanyaan beruntun yang datang mengejutkan, memaksanya merenung dan berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya selama ini.

Amplop ketiga yang diletakkan di dalam kotak-surat sangat membuatnya penasaran.

Surat datang dari seorang Ayah yang ditujukan kepada puterinya yang berulang tahun ke 15 tepat sebulan sebelum tanggal kelahiran Sophie sendiri. Anak itu bernama Hilde Moller Knag yang tidak dikenalnya sama sekali. Pada sampul depan amplop tertulis d/a Sophie Amundsen juga alamat rumahnya yang tertera jelas. Surat berisi ucapan selamat ulang tahun, juga pemberitahuan bahwa sang Ayah memberi sebuah hadiah yang akan membantunya berkembang melewati masa-masa kehidupan. Tak lupa ia meminta maaf karena mengirim surat itu ke alamat Sophie.

Surat keempat, dikeluarkan dari amplop besar berwarna coklat, pada bagian belakang amplop tertulis : “Pelajaran Filsafat. Hati-hati !”

Di dalamnya berisi tiga halaman ketikan yang disatukan dengan penjepit kertas. Lembaran-lembaran berisi uraian sebuah pengantar untuk memahami filsafat, membahas apa pengertian filsafat serta bagaimana manusia menghadapi dan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan. Bagaimana dunia diciptakan ? Adakah kehendak atau makna dibalik apa yang terjadi ? Adakah kehidupan setelah kematian ? Dan yang paling penting adalah pertanyaan, Bagaimana seharusnya kita hidup ?

Sejak itu, Sophie menerima pelajaran filsafat dari seorang guru yang misterius.

Hari berganti hari, amplop-amplop besar mengalir mengisi kotak-surat di rumahnya. Isi surat merupakan rangkaian pelajaran filsafat yang disampaikan bagian demi bagian. Diawali dengan uraian mengapa manusia berfilsafat kemudian menjelaskan era mitologi lalu masuk ke era dimana sejarah pemikiran filsafat dimulai.

Melalui surat rahasia, sang guru-misterius memberi penjelasan tentang para filosof dan pemikirannya yang hidup dalam latar kebudayaan dan era yang berbeda-beda. Secara bertahap ia membimbing Sophie memahami filsafat, memandunya dengan menelusuri jalur panjang sejarah perkembangan pemikiran filsafat dari para filosof terkemuka. Mulai dari jaman Yunani sekitar tahun 700 SM dimana sejarah filsafat dimulai hingga jaman modern, masa ia menjalani kehidupan pada saat itu.

Sophie memilih belajar diam-diam. Surat-surat dibacanya dengan sembunyi-sembunyi dalam kamar atau menyendiri dalam sarang rahasia tanpa sepengetahuan ibunya. Setelah selesai, lembar demi lembar dikumpulkan secara teratur dalam sebuah kaleng lalu dilubangi dan disusun kembali berurutan sesuai halaman menggunakan penjilid cincin.

Sikap sang guru yang tidak juga menampakan diri mengusik rasa ingin tahunya. Sophie mulai mengawasi dan menyelidiki pola bagaimana surat-surat itu berada di dalam kotak surat di rumahnya. Dari jendela kamar atasnya, pada suatu malam, ia sempat memergoki si pengirim surat misterius menyelinap, memasukan amplop ke dalam kotak-surat. Sophie bergegas turun, berusaha mengejar namun ia tertinggal, lelaki itu berlari cepat menghilang ke arah hutan.

Setelah peristiwa itu, surat-surat dikirim melalui utusan seekor anjing labrador bernama Hermes, binatang peliharaan kesayangan sang guru-misterius. Surat terkadang ditaruh begitu saja di tangga rumahnya, kadang Hermes meletakkan di dalam sarang rahasianya, kadang pula Sophie langsung memungut surat dari mulut Hermes yang menghampirinya.

Demi memuaskan rasa penasaran, Sophie memberanikan diri mengikuti dan menyusuri jejak kaki Hermes. Ia berjalan melewati hutan, mendayung biduk menyeberangi danau, sampai pada akhirnya memasuki gubuk kecil dengan suasana aneh tanpa bertemu penghuninya. Niat Sophie untuk bertemu gurunya tertunda karena kemauan sang guru yang berjanji, akan segera menemuinya pada waktu yang tepat.

Melalui Hermes, sang guru kemudian mengirimnya sebuah kaset video. Sambil menjelaskan tentang Acropolish dan Athena, melalui tayangan video, guru-misterius itu memperkenalkan diri sebagai Alberto Knox. Perkiraan umur, ukuran tubuh, garis wajah yang khas dengan janggut lancip dan topi baret di kepalanya mengingatkan Sophie pada sosok yang dilihatnya pada malam itu dari jendela kamar atasnya.

Alberto Knox tinggal sendirian menempati sebuah gubuk kayu kecil di pinggiran hutan di seberang danau. Tempat yang dikenal dengan gubuk-sang-mayor karena beberapa tahun silam pernah tinggal seorang mayor angkatan bersenjata di sana untuk beberapa lama. Seorang lelaki paruh baya yang menurut ibunya agak eksentrik dan sedikit sinting.

Pelajaran selanjutnya dilakukan melalui janji lewat telepon dan pertemuan langsung dengan sang guru yang dipanggilnya Alberto. Penjelasan sederhana dengan cara yang unik, melalui dialog dan tanya jawab membuat Sophie yang bukan anak-anak lagi namun belum dewasa mampu menangkap gagasan-gagasan filsafat dari berbagai tokoh pemikir dengan mudah. Pada saat yang sama ia berupaya memahami realitas dunia kehidupan yang sedang dijalani pada saat itu.

Sophie memburu penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa tidak masuk akal yang seringkali menimpanya. Sejumlah peristiwa membuat keningnya berkerut, mengapa dirinya bertemu dengan tokoh-tokoh terkenal dari dunia dongeng yang tiba-tiba muncul begitu saja. Bahkan ia sempat dikunjungi Nabi Nuh yang memegang tongkat, dengan penampilan rambut panjang dan jenggot putihnya.

Sembari memberi materi pelajaran, Alberto perlahan menuntun muridnya memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam realitas dunia yang sedang dialami oleh mereka.

Sedikit demi sedikit Alberto mengungkap bahwa kehidupan yang sedang dijalani oleh Sophie dan dirinya, semuanya dibawah kendali sang-mayor. Tidak ada suatupun yang luput dari pengetahuannya. Apapun yang ada dan terjadi dalam dunia mereka, semua adalah atas ijin dan kehendak sang-mayor.

Alberto menjelaskan, mereka sebenarnya tengah berada di dalam realitas rekaan yang diciptakan oleh sang-mayor. Eksistensi mereka sesungguhnya hanyalah cerita yang dikarang melalui pikiran sang-mayor. Mereka dan seluruh yang ada di dunia bersama mereka adalah realitas rekaan di balik kata-kata dalam sebuah cerita panjang yang disusun. Pikiran yang terus bergerak dan direalisasikan menjadi tulisan, rangkaian kata dan kalimat, melalui susunan huruf demi huruf dari mesin ketik yang diketuk oleh jari jemari sang-mayor. Dunia yang sedang dialami mereka, pada hakekatnya adalah dunia pikiran sang-mayor dan mereka menjalani hidup di dalamnya, terkurung dalam belenggu mental pikiran sang-mayor.

Melalui pemahaman filsafat, Alberto menyadarkan Sophie bahwa eksistensi mereka memiliki kekuatan untuk menentukan diri. Pada eksistensi mereka, melekat kehendak bebas untuk memutuskan sebuah pilihan. Apakah terus menjalani hidup dalam belenggu mental ataukah keluar dari belenggu yang sedang mengurung kehidupan mereka. Alberto dan Sophie bersepakat memberontak melawan sang-mayor, mereka memutuskan dan berkehendak membebaskan diri, lepas dari belenggu mental pikiran sang-mayor.

Segera Alberto menyusun rencana rahasia untuk keluar dari dunia pikiran sang-mayor. Sophie dituntut untuk patuh pada semua perintahnya agar rencana berhasil dan tidak diketahui sang-mayor. Mereka akan melakukan aksi menyelinap melalui sebuah peristiwa ketika acara puncak memperingati hari ulang tahun Sophie yang disebut Pesta Taman Filsafat.

Namun, siapakah sebenarnya sang-mayor ? Siapa pula Hilde Moller Knag ? Keduanya masih misteri dan Sophie ingin memuaskan rasa ingin tahunya.

.

Memasuki paruh kedua, sudut pandang pembaca dialihkan menuju realitas dunia nyata kehidupan seorang anak gadis bernama Hilde Moller Knag, yang baru saja terbangun dari tidur lalu menyadari bahwa hari itu tanggal 15 Juni adalah hari ulang tahunnya yang ke 15.

Hilde mendapati bungkusan besar, berwarna biru dengan ikat pita sutera berwarna merah di atas meja dekat tempat tidurnya. Sebuah pesan yang menempel dibacanya : “Untuk Hilde pada hari ulang tahunnya yang ke 15 dari Ayah.”

Saat itu Hilde tinggal berdua bersama Ibunya. Ayahnya sedang menjalankan tugas di Libanon sebagai anggota batalyon pengamat perdamaian PBB dari Norwegia. Ayahnya yang berpangkat mayor rajin mengirimnya kartu ucapan. Dari seberang, ia memberitahu akan segera pulang saat pertengahan musim panas ini dan berjanji mengirim hadiah tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 15. Hari ini Hilde menerima hadiah itu.

Duduk di atas tempat tidur, Hilde membuka bungkusan dengan hati-hati. Di dalamnya ditemukan map besar yang dipenuhi lembaran-lembaran kertas ketikan, seperti sebuah buku. Ketikan-ketikan yang ia kenal berasal dari mesin ketik kecil Ayahnya yang dibawa ketika berangkat ke Libanon.

Pada halaman pertama tertulis judul buku dengan huruf besar : DUNIA SOPHIE.

Di bagian bawah halaman itu terdapat cuplikan dua baris puisi :

PENCERAHAN SEJATI BAGI MANUSIA
ADALAH SEPERTI MATAHARI MENYINARI BUMI

---N.F.S Grundtvig

Hilde melanjutkan membuka halaman berikutnya lembar demi lembar. Ia mulai membaca sebuah buku cerita tentang seorang anak perempuan bernama Sophie Amundsen yang menerima pelajaran filsafat dari seorang guru-misterius.

Selain mengenal seorang gadis seusianya bernama Sophie, melalui buku karya Ayahnya, Hilde memperoleh pelajaran filsafat dari tokoh rekaan dalam cerita itu. Hilde memahami filsafat dari surat-surat yang diterima Sophie dan percakapannya dengan lelaki berjanggut lancip dengan topi baret dikepalanya bernama Alberto Knox. Dalam cerita, Alberto yang memberi pelajaran filsafat dan membimbing Sophie memahami realitas kehidupan.

Hilde hanyut dalam cerita yang dibacanya, ia membayangkan dirinya menjadi Sophie dalam cerita itu. Ia dapat mengerti betapa bingungnya Sophie mengalami banyak hal aneh yang tidak dapat dijelaskan akal, juga dengan tokoh-tokoh dongeng yang tiba-tiba muncul bertemu dengannya.

Pada saat yang sama, Hilde mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa semua peristiwa aneh dan tokoh-tokoh dongeng itu hanyalah kejailan imajinasi dari pikiran Ayahnya yang dituangkan dalam kata-kata dan rangkaian kalimat ketika Ayahnya mengetik cerita yang sedang dibacanya.

Andai saja bisa, Hilde ingin segera bertatap muka dengan Sophie untuk menjelaskan hakekat kenyataan dan kebenaran sejati tentang dunia dan kehidupan Sophie, juga dengan semua persoalan keanehan yang dialaminya.

Hilde dapat memahami, di dalam dunia mereka, dimata Sophie dan Alberto, Ayahnya seperti Tuhan bagi dirinya yang sedang berada di dunia nyata. Ia mahakuasa dan mengetahui segalanya. Agar cerita menjadi menarik, apapun yang dikehendaki bisa saja ditulis oleh Ayahnya dan itu menyangkut jalannya cerita, nasib Sophie dan semua peristiwa yang terjadi hingga berakhirnya cerita.

Hilde benar-benar menghayati dan tenggelam dalam cerita yang melibatkan dirinya, namun ia juga meyadari cerita itu hanyalah rekaan Ayahnya. Dunia dan kehidupan Sophie realitas rekaan semata.

.

Pada bagian sepertiga akhir, di satu sisi, sudut pandang pembaca diarahkan kepada realitas dunia nyata dimana Hilde telah selesai membaca buku cerita yang dikirim Ayahnya. Sementara Ayahnya telah berangkat meninggalkan Libanon dan tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah untuk bertemu istri dan putri tercintanya.

Cerita yang ditulis Ayahnya ditutup dengan berlangsungnya acara Pesta Taman Filsafat, seminggu setelah tanggal kelahiran Sophie untuk memperingati hari ulang tahunnya ke 15. Alberto diundang dan diberi kesempatan memberi pidato filsafat yang mengejutkan para tamu.

Pada awal pidatonya Alberto menyatakan, ia dan Sophie telah melakukan penyelidikan filsafat besar-besaran. Kini saatnya untuk mengungkap penemuan tentang rahasia terdalam dari eksistensi mereka.

Setelah melakukan telaah mendalam, mulai dari filosof Yunani pertama hingga para filosof masa kini. Mereka mendapati bahwa mereka menjalani kehidupan dalam pikiran sang-mayor, yang saat ini sedang bertugas di Libanon. Sang-mayor juga telah menulis buku cerita tentang dirinya dan Sophie untuk puterinya. Puterinya bernama Hilde Moller Knag, yang berusia 15 tahun tepat pada hari yang sama ketika Sophie berulang tahun ke 15. Buku itu terletak di atas meja, di samping tempat tidurnya ketika bangun tidur pada hari ulang tahunnya tanggal 15 Juni. Tepatnya buku itu berbentuk map besar. Bahkan ketika kita sedang bicara sekarang ini, Hilde dapat menyentuh halaman terakhir dengan jari telunjuknya. Alberto mulai berpidato di depan para tamu.

Eksistensi kita oleh karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hadiah hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag. Kita semua telah diciptakan sebagai kerangka pendidikan filsafat untuk puteri sang-mayor. Ini berarti, Mercedes putih di gerbang itu, misalnya, tidak bernilai satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tidak lebih dari Mercedes putih yang hanya berputar-putar di dalam kepala seorang mayor PBB yang malang, yang pada saat ini juga sedang duduk di bawah bayang-bayang sebuah pohon palm agar terhindar dari serangan panas matahari. Siang hari sangat panas di Libanon, kawan-kawanku !

Pesta taman ini sesungguhnya merupakan omong kosong belaka. Satu-satunya pikiran waras dalam seluruh pesta ini adalah pidato ini ! Alberto terus melanjutkan pidatonya.

Tidak banyak lagi yang dapat dikatakan jika sudah menyadari bahwa kita semua hanyalah imaji mimpi dalam kesadaran seseorang yang sedang terkantuk-kantuk. Kita semua tidak lain hanyalah bayang-bayang. Sophie dan aku, bagaimanapun juga, akan meninggalkan pesta ini. Jika waktunya telah tiba kami akan menghilang. Begitulah kami akan menyelinap keluar dari alam kesadaran sang-mayor. Alberto menutup pidatonya.

Sophie berpamitan pada ibunya yang mengijinkan ia pergi untuk selamanya. Tidak lama berselang, pesta mendadak berubah kacau oleh peristiwa-peristiwa aneh. Mesin mobil Mercedes putih tiba-tiba hidup dikendarai oleh seorang pemuda yang datang entah darimana. Mobil melesat melampaui gerbang, melewati jalan kerikil masuk ke dalam taman. Ambang kematian ! Begitu Alberto bergumam sendiri lalu menarik tangan Sophie, menyeret bersamanya berlari ke arah pagar tanaman. Sekarang waktu yang tepat untuk menyelinap keluar dari pikiran sang-mayor, Alberto memutuskan. Dan pada saat yang sama mobil Mercedes putih menabrak sebuah pohon apel.

Alberto dan Sophie terus berlari menuju gubuk-sang-mayor, Alberto membuka pintu rahasia di lantai, ia mendorong Sophie masuk ke dalam gudang bawah tanah. Lalu segalanya berubah menjadi gelap.

Setelah mobil menabrak pohon apel, pesta pun usai, Ibunya dan para tamu hanya mengetahui Alberto dan Sophie menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan udara.

Buku cerita yang dibaca oleh Hilde berakhir.

.

Di sisi yang lain, sudut pandang pembaca diarahkan mengikuti perjalanan Sophie dan Alberto selanjutnya, setelah memasuki lorong gelap di gudang bawah tanah gubuk-sang-mayor.

Alberto menjelaskan kepada Sophie bagaimana mereka bisa keluar dari kesadaran pikiran sang-mayor. Mereka berhasil melepaskan diri dari belenggu mental pikiran sang-mayor dan keluar meninggalkan realitas dunia rekaan lalu memasuki dunia yang lain.

Sekarang mereka berada di dalam realitas dunia lain yang disebut dunia kekekalan. Sophie dan Alberto kini menjalani hidup dalam dunia baru yang sangat berbeda dengan dunia rekaan sang-mayor dan dunia nyata dimana Hilde sedang termenung menunggu kedatangan Ayahnya.

Alberto memenuhi rasa penasaran Sophie yang ingin mengetahui apa yang terjadi ketika sang-mayor bertemu dengan puterinya. Mereka lalu bergerak menuju ke sebuah rumah yang ditempati Hilde. Dari dunia lain, Alberto dan Sophie menyaksikan kehidupan sebuah keluarga.

.

Pada bagian akhir, sudut pandang pembaca diarahkan mengikuti secara bergantian antara Alberto dan Sophie yang berada di dunia lain dan Hilde dan Ayahnya yang sedang mengalami dunia nyata. Dua dunia berbeda yang berinteraksi.

Sophie yang berada di dunia lain melihat Hilde duduk di dok di pinggir perairan sedang menyendiri, gelisah menunggu kedatangan Ayahnya. Ia mendatangi Hilde lalu duduk di sampingnya. Sophie menyapanya, berusaha mengajaknya berbicara namun Hilde yang berada di dunia nyata tampak tidak mendengar dan melihatnya.

Sementara Hilde pada saat itu merasa ada tarikan nafas samar-samar di dekatnya, entah apa, ia merasa sesuatu hadir menemani kesendiriannya. Ia tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang memanggil namanya dari kejauhan, Hilde bangkit berlari menuju seorang lelaki yang berdiri di taman. Lelaki itu tidak lain sang-mayor, Ayah Hilde bernama Albert Knag yang baru saja tiba dari Libanon. Sophie menyaksikan bagaimana Hilde begitu gembira dipelukan Ayahnya, diangkat dan mereka berputar-putar.

Alberto lantas menjelaskan bahwa dunia mereka saat ini adalah dunia yang dihuni oleh mahluk-mahluk tidak kasatmata. Dulu mereka yang tidak bisa campur tangan, merasakan, mendengar dan melihat dunia nyata yang dialami sang-mayor dan puterinya, sekarang Hilde dan Ayahnya yang tidak bisa campur tangan, melihat, merasakan dan mendengar dunia mereka.

Setelah makan malam, mereka duduk berdua di taman. Sambil menikmati malam, Ayahnya melanjutkan pelajaran filsafat yang tersisa. Kali ini Hilde menerima pelajaran filsafat langsung dari Ayahnya dengan tema-tema asal mula kehidupan dan terbentuknya alam raya, dentuman besar, bintang-bintang, bumi, planet-planet, galaksi juga dunia lain dan tema-tema filsafat yang tidak sempat disampaikan melalui buku cerita.

Sementara dari dunia lain, Alberto dan Sophie turut mendengarkan dan mengamati mereka.

Setelah Ayahnya menutup penjelasan, Hilde menanyakan tentang Alberto dan rencana rahasianya pada buku cerita yang dibacanya. Dengan tenang, Ayahnya menjawab bahwa akhir cerita menghilangnya Alberto dan Sophie begitu saja hanyalah sebuah cerita yang harus berhenti di suatu tempat. Itu hanyalah sesuatu yang ditulisnya. Sama sekali tidak berarti bahwa ada peristiwa setelahnya, misalnya mereka sekarang ada di sini.

Dari dunia lain, kembali Sophie berjalan mendekati dan berdiri persis dihadapan mereka, pertama-tama ia berusaha menarik perhatian Hilde tapi sia-sia. Ia kemudian memukul kening Hilde dengan kunci inggris yang diambil dari mobil yang mengantarnya ke rumah itu. Hilde bereaksi mengaduh dan merasa seperti tersengat serangga.

Apakah kamu percaya mereka ada di sini, Hilde ?
Ayahnya tiba-tiba bertanya lembut.

Aku dapat merasakannya Ayah !
Sang-mayor langsung memeluk puterinya, mendekapnya erat-erat.


Jakarta, 30 Agustus 2021


Tuesday, August 24, 2021

Antara GITA CINTA DARI SMA, AADC dan DILAN 1990


Sejumlah film dengan tema kehidupan remaja mendapat sambutan baik dari masyarakat. Film yang berkisah tentang cinta kasih sepasang remaja di bangku sekolah disukai dan menarik jutaan penonton. Berhasil secara komersial juga berpengaruh secara sosial terhadap kehidupan remaja pada masanya.

Tiga film yang cukup menonjol bisa disebut Gita Cinta Dari SMA, Ada Apa Dengan Cinta dan Dilan 1990.

Salah satu karakteristik film itu, menampilkan tokoh utama pria sebagai sosok yang cerdas, dengan penampilan fisik menarik, yang juga menghayati hidup dalam dunia lain dengan intens.

Sebagai pelajar dalam dunia keseharian sekolah, sang tokoh memiliki prestasi menonjol dalam bidang akademis, namun di luar hal-hal formal, dalam pergaulan sosial dengan teman-teman sekolahnya cenderung ditampilkan tersisih dan terpinggirkan.

Tokoh utama pria cenderung digambarkan dengan karakter pendiam, tertutup, penyendiri, pemalu atau kurang percaya diri, karakter yang sangat kontras dengan keceriaan dunia sekolah. Ia seolah memiliki dunia lain yang terpisah, tenggelam dan menyelami dunianya sendiri yang membuat pribadinya menjadi menarik dan unik.

Galih dalam film Gita Cinta Dari SMA, selain berprestasi secara akademis, menampilkan sosok yang canggung, pemalu dan sedikit rendah diri karena latar belakang ekonomi keluarga yang sederhana. Dibanding teman-teman sekolahnya yang bangga membawa mobil pribadi ke sekolah atau mengendarai sepeda motor (vespa) dengan penuh percaya diri, Galih harus berkali-kali mengusap wajah murungnya yang berkeringat mengayuh sepeda usang untuk sampai di sekolah. Kadang ia terpaksa terlambat masuk kelas karena bersusah payah memasang rantai sepeda yang terlepas di tengah jalan.

Di luar dunia sekolah, Galih gemar memainkan gitar dan bernyanyi, dunia seni musik dihayatinya untuk merasakan denyut kehidupan. Tak jarang ia menyendiri, menumpahkan gelisah dan rasa gundah dengan mencipta lagu dan bernyanyi. Selepas SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan seni untuk mengejar masa depannya. Kelak Galih mencapai puncak popularitas di dunia seni musik menjadi idola para remaja sebagai penyanyi dan pencipta lagu. Dunia seni yang kemudian mempertemukan dan menyatukan cintanya kembali dengan Ratna.

Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta merupakan sosok yang introvert dan sensitif, pendiam, penyendiri, cuek, ketus sekaligus agak sinis. Ia bersikap tertutup karena latar belakang kehidupan keluarganya yang suram. Ibu dan saudaranya meninggalkan sang ayah dan dirinya karena sikap idealis yang dipegang kukuh oleh ayahnya.

Ia jelas digambarkan tidak berbaur dengan keceriaan teman-teman sekolahnya, sering terlihat murung, berjalan sendirian, memisahkan diri dari riuh rendahnya suasana sekolah. Rangga lebih dekat dengan Pak Wardiman penjaga sekolahnya dan Pak Limbong seorang tua penjual buku bekas langganannya di Kwitang daripada bergaul akrab dengan teman-teman sebayanya.

Disisi lain, Rangga asyik menghayati dunianya sendiri. Ia menyukai seni sastra berkelas, yang jarang diminati para remaja seusianya. Teman-temannya lebih umum menikmati hidup dengan ringan, berkumpul bersama melalui waktu dengan canda, tawa dan bergembira. Sementara Rangga memilih menghindar dari pergaulan, menyingkir, menjauhkan diri dengan membaca buku, menuliskan perasaan dan tenggelam dalam dunia seni sastra yang digelutinya.

Cinta yang memimpin majalah dinding di sekolahnya dan menyukai puisi, seketika terperanjat ketika Rangga mengalahkannya dalam lomba karya puisi di sekolahnya. Ia kian merasa direndahkan ketika bertemu langsung dengan Rangga yang menolak diwawancarai. Di hadapannya Rangga bergaya pongah meremehkan penghargaan dari lingkungan sosialnya. Dengan sinis Rangga menyatakan tidak ikut perlombaan karena merasa tidak mengirim karyanya ke panitia lomba puisi itu.

Kepribadian yang jarang ditemui membuat Cinta ingin mengenal lebih dalam. Melalui tulisan bait-bait puisi dan sebuah buku sastra yang dibaca Rangga, hubungan mereka terjalin kian dekat. Sekali waktu, mereka menyempatkan diri menikmati dunia seni dengan mengunjungi sebuah kafe. Diiringi petikan gitar, di atas panggung, Cinta membaca puisi karya Rangga yang membuat para pengujung riuh bertepuk tangan.

Cinta kemudian tersadar, dirinya baru menyentuh permukaan dunia sastra yang begitu dalam dan luas. Di dalam hatinya mulai tumbuh perasaan kagum dan tertarik pada Rangga, yang menurut penilaian awalnya menyebalkan, sok keren dan suka menyakiti. Sosok tak terduga, yang justru menyeretnya jauh ke dalam dunia yang dipenuhi keindahan. Dunia yang mempertemukan mereka, membuat saling tertarik dan jatuh cinta, dunia seni sastra.

Dalam film Dilan 1990, Dilan digambarkan dengan sosok yang kurang stabil, agak aneh dan rumit. Ia terkesan pendiam dan murung namun mudah tersenyum dan tertawa, kadang tampak konyol berlebihan dan lucu tapi gampang naik darah, meledak-ledak tak terkendali. Ia seorang pelajar cerdas yang terpilih mewakili sekolahnya dalam perlombaan cerdas cermat.

Di sekolah, ia berbaur seperti biasa dengan teman-temannya, berkumpul bersama menghabiskan waktu jam-jam istirahat pelajaran di kantin. Dilan bukan sosok yang menghindar dari pergaulan. Ia setia kawan, di luar dunia sekolah ia memiliki eksistensi, menjadi panglima tempur geng motor yang dihormati dan ditakuti.

Dilan yang kerempeng menyimpan keberanian dan memegang prinsip kuat sebagai seorang lelaki. Tubuhnya yang kurus mendadak bisa berubah menjadi seekor singa garang yang siap melampiaskan kebuasan ketika berurusan dengan kehormatan, komitmen dan menghadapi sikap ketidakadilan yang merendahkan harga diri.

Dibalik gaya bicara yang puitis super hiperbolis seperti dibuat-buat, Dilan ternyata benar-benar menyukai seni sastra. Sebuah buku berisikan bait-bait puisi ditunjukkan ibundanya kepada Milea ketika bersama-sama membersihkan kamarnya yang berantakan. Dalam hening tengah malam, lembar demi lembar, berdua mereka menikmati buku puisi yang ditemukan tergeletak diantara tumpukan berbagai jenis buku koleksinya yang berjejer begitu banyak dalam kamarnya.

Selain dunia petualangan lelaki yang dijalani, diam-diam Dilan merangkai keindahan kata demi kata, menuliskan perasaan tentang dunianya, pengalaman hidupnya dan Milea yang dicintainya. Dalam kesendirian Dilan menyelami, menggeluti dan menghayati dunia lain, dunia seni sastra.


Jakarta, 25 Agustus 2021


Wednesday, July 7, 2021

KABUT SUTERA UNGU


Membaca judul film yang menarik karya Sjuman Djaja ini, yang merupakan adaptasi novel populer karya Ike Soepomo, segera pikiran meraba makna konotatif yang tersirat di balik gabungan ketiga kata itu.

Secara umum kabut bermakna konotatif sesuatu yang meliputi, yang menghalangi atau mengganggu pandangan. Sutra berarti suatu yang bersifat feminim, halus atau lembut. Ungu dapat bermakna warna yang mewakili perasaan duka seseorang.

Dengan menjalin makna konotatif-umum yang terkandung pada setiap kata, makna konotatif-judul secara keseluruhan mampu memberi gambaran tema karya itu. Film kira-kira menceritakan duka yang meliputi seorang perempuan lembut yang harus berjuang menghadapi hidup setelah ditinggal oleh suami tercinta.



Sebagai keluarga muda ideal, Miranti menjalani hidup bahagia bersama seorang suami yang baik lagi tampan. Ekonomi yang mapan karena profesi terhormat suaminya sebagai pilot melengkapi kebahagiaan. Miranti sangat mencintai suaminya dan dikarunai seorang putri yang hari demi hari mewarnai indah hidup mereka.

Namun, hidup bukanlah suatu yang tetap, kehidupan terus bergerak seiring waktu dan seringkali berputar mengejutkan, naas tiba-tiba menjemput ketika Miranti mengandung putri keduanya. Pesawat yang dipiloti sang suami mengalami kecelakaan. Suami tercinta pergi untuk selamanya bersama pesawat yang hancur berkeping-keping di udara. Miranti pun harus melewati kelahiran puteri kedua tanpa didampingi sang suami tercinta.

Miranti lalu menapaki kehidupan baru, tanpa sandaran ia menghadapi hidup yang membentang jauh disertai beban yang kian bertambah. Dalam status baru yang disandangnya, ia kukuh menjaga kesucian cinta suaminya yang telah tiada sekaligus harus menghadapi kenyataan untuk mempertahankan hidup selanjutnya yang penuh tantangan. Miranti bertekad penuh keyakinan, menjadikan dirinya seorang perempuan yang kuat, mandiri, bermartabat dan penuh harga diri.

Karena kondisi dan desakan keluarga, Miranti kembali tinggal bersama kedua orang tuanya, ia berupaya membantu sang adik membuka klinik kesehatan di rumah orang-tua mereka. Miranti mencatat administrasi pasien adiknya yang baru lulus dari fakultas kedokteran. Sayang, usaha menemani sang adik tidak berhasil karena keadaan klinik yang baru dirintis dan perlu waktu panjang untuk berkembang. Meski ditentang oleh orang tua, demi kemandirian Miranti memutuskan kembali lagi ke rumah yang dulu ditinggali bersama sang suami, ia bergegas membanting setir mengalihkan usaha.

Berbekal sedikit latar belakang pendidikan kecantikan, dengan dukungan koneksi teman-teman baiknya, ia membuka salon kecantikan dan butik. Sikap profesional serta kerja keras yang terus dijaga membuat usahanya berkembang pesat. Miranti kembali bergairah menjalani hidup, hari-hari dilewati dengan ringan dan penuh aktivitas. Miranti mulai menikmati indahnya hidup yang selama ini hilang.

Bibir tipis, leher yang jenjang, mata indah dengan wajah lembut yang cantik dan penampilan di masa muda yang menarik menjadi ujian pertama yang menghampiri. Teman-teman lama yang dulu menaruh hati kepadanya kembali mencoba mendekati. Konflik mulai berdatangan mengganggu batin, sejumlah peristiwa menyebabkan hubungan dengan teman dan sahabatnya rusak karena ulah para suami mereka. Status janda muda menjadi sumber segala persoalan dan pergolakan batin yang dialaminya.

Lingkungan sekitar terus memandang rendah dirinya. Curiga, gunjingan serta bermacam tuduhan negatif hilir mudik menghantamnya, Miranti berusaha tegar dan bertahan menjaga diri sebagai perempuan teguh, tangguh, bermoral dan bermartabat.

Dari mulut iseng orang yang nongkrong di pinggir jalan, istri tetangga yang tiba-tiba melabrak hanya karena sang suami saling sapa di taman, para suami sahabatnya yang mengkhianati istrinya, lelaki mapan yang berusaha menggoda dan menjebaknya hingga pemuda bandel yang mencoba memperkosanya, dilawan dengan kesabaran dan kesadaran tanpa melukai dan merendahkan.

Berbagai persoalan nyaris tiada henti mengikis keras hatinya. Miranti lambat laun berubah lunak, ia tertekan dan merasa lemah. Terkadang ia berlari melempar tubuh ke ranjang, mengunci diri dalam kamar, sendirian berurai air mata memeluk bantal, meluapkan rasa gundah, bertanya, mengeluh, mengadu, memohon dan membela diri dihadapan sang Maha-Kuasa. Kegigihan hatinya berlahan-lahan luntur menipis.

Waktu bergulir, Dimas adik mantan suaminya pulang setelah menyelesaikan studi di Jerman. Miranti bersama keluarga besar turut menyambut kedatangan di bandara. Ia mengajak serta kedua buah hatinya. Tanpa disangka puterinya yang masih balita langsung berlari riang, memanggil papah, menyambut sosok lelaki yang mirip dengan ayahnya. Kedua tangan Dimas membentang lebar, sambil berjongkok ia membalas dekapan dengan pelukan hangat seorang ayah. Dengan gembira mereka berjalan keluar bandara sambil menggendong puteri Miranti.

Hubungan berkembang mengiringi waktu, hari demi hari Dimas semakin memperhatikan Miranti serta kedua anaknya. Setiap waktu luang ia menyediakan diri bermain dan mengunjungi Miranti untuk menghibur dan mengajak jalan-jalan menikmati kebahagiaan di akhir pekan. Dibalik perhatiannya, Dimas ternyata jatuh hati kepada mantan istri kakaknya.

Meski menyadari dirinya mencintai Dimas, Miranti tidak yakin dengan kemurnian cinta Dimas, rasa ragu terus hadir mengusik nurani. Hatinya khawatir perasaan Dimas hanyalah belas kasihan seorang lelaki kepada seorang perempuan yang lemah dengan beban dua anak yang ditanggungnya. Keraguan Miranti tidak bergeser meski Dimas berulang kali membantu dan melindungi dirinya menghadapi berbagai persoalan yang mendera.

Dimas tidak menyerah, ia berusaha keras menjelaskan perasaannya, cintanya adalah murni cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan. Ia meyakinkan, dirinya jatuh cinta kepada Miranti sejak pertama kali menatap wajah lembutnya di bandara. Namun, Miranti tetap bergeming, ia menolak lamaran Dimas untuk menikah dengannya.

Dimas akhirnya menyimpulkan, Miranti menolaknya karena ia adik mantan suaminya, sesuatu yang tidak mampu diubah olehnya. Sebuah keadaan yang hanya bisa diterima tanpa pilihan menolak. Dirinya yang benar-benar mencintai Miranti putus asa dan kecewa, ia terluka, pergi meninggalkan Miranti sendiri dan memastikan tak akan kembali untuk selamanya. Dimas berpamitan berangkat kembali ke Jerman, di tengah guyuran hujan ia berlari meninggalkan Miranti yang berteriak keras mengingatkan agar tidak menjadi seorang pengecut yang lari dari kenyataan.

Menjelang keberangkatanya ke Jerman, di bandara Dimas merenungkan kembali keputusan meninggalkan Miranti. Ia yakin Miranti sesungguhnya mencintai dirinya, dengan pasti ia segera membatalkan keberangkatannya untuk kembali menemui Miranti.

Sementara Miranti sedang menyesali diri karena tidak jujur pada perasaan sendiri, seperti biasa ia terisak menyendiri di dalam kamar, mencurahkan perasaan yang selama ini dipendam jauh dilubuk hatinya. Dengan polos Ia mengakui, dirinya mencintai Dimas dan menyesal telah menyakiti dan membuat pergi meninggalkannya.

Dimas yang berdiri dibalik pintu kamar mendengarkan semua ungkapan hati Miranti yang sesungguhnya. Diam diam ia melangkah mendekati Miranti lalu memeluknya dari belakang. Miranti terkejut, ia begitu gembira sosok yang dicintainya kini berdiri persis dihadapannya. Mereka lantas berpelukan menumpahkan rasa sayang dan bahagia yang tertahan.

Dimas menggendong Miranti keluar kamar. Sanak saudara, orang tua dan keluarga besar dari keduanya telah berkumpul, dengan percaya diri menyungging senyum bangga, di depan mereka Dimas menyatakan akan segera menikahi Miranti.



Pada Festival Film Indonesia 1980, film ini memperoleh penghargaan :

Pemeran Wanita Terbaik : Jenny Rachman
Tata Sinematografi Terbaik : Leo Fiole
Tata Suara Terbaik : Suparman Sidik
Penata Musik Terbaik : Sudharnoto


Jakarta, 8 Juli 2021


Sunday, June 27, 2021

Pergi


Dalam beberapa bulan ini, saya mendengar, melihat atau mengunjungi beberapa teman, sahabat dan kerabat yang ditinggal oleh orang-orang dekat yang mereka kenal-baik dan mereka cintai. Peristiwa yang kembali mengingatkan kepada mereka yang telah pergi.

Beberapa masih berjuang melawan kesulitan dan cobaan yang sedang dihadapi di masa sulit ini. Kepada mereka semua, semoga diberi kemudahan untuk melewatinya dan kembali menjalani hidup seperti biasa, mengisi hidup dengan amal, ibadah, penuh kasih dan persaudaraan.

Saya sendiri mengalami berulang kali, ditinggal oleh orang-orang dekat yang saya cintai. Apakah mereka mencintai saya atau tidak bukanlah persoalan, yang pasti di dalam lubuk-hati, saya merasa mencintai mereka dan pernah merasakan cinta-kasih mereka. Bagi mereka semua, melalui doa, saya sempatkan diri memohon sekaligus berharap, mereka diberi limpahan cinta-kasih dari Sang Maha Kasih Dan Penyayang.

Namun, sesuatu kadang mengganggu ketika teringat mereka. Suatu yang sangat mungkin dengan sengaja saya abaikan, yaitu memenuhi permintaan atau harapan mereka yang sesungguhnya ringan dan dapat saya lakukan atau penuhi ketika mereka masih hidup dan dapat menikmati kebahagiaan di dunia ini.

Hal yang entah bagaimana, meluapkan sesal memenuhi dada tatkala wajah-wajah mereka silih berganti melintas dalam pikiran. Menjadikan hati ini sesak manakala ingatan berulang kali memutar berbagai peristiwa saat melewati waktu bersama mereka dengan segala kebahagiaan, kebaikan dan cinta-kasihnya.

Kepada mereka, saya memohon maaf.


Bekasi, 27 Juni 2021


Friday, June 18, 2021

Malam Itu


“Ga dihabisin, mas ?“, sambil bersandar, bapak penjaga warung melihat seorang anak muda menyingkirkan semangkuk mie ayam yang baru sedikit disantapnya.

“Takut muntah pak.“, jawab anak muda itu khawatir.

“Asem ?“

“Rasanya gimana gitu."
"Baunya ga enak. Kalau dipaksa pasti muntah deh.“

“Gimana ni, pak ?"
"Dibalikin ga enak."
"Entar tersinggung dia. Kasihankan ?“, lanjut anak muda itu, tangannya meraih segelas kopi di hadapannya, sebatang rokok dinyalakan.

“Jangan mas. Buang ke sana aja !”, jarinya menunjuk ke tempat sampah yang berada di pojokan samping warung, agak jauh dari meja.

“Sama kali, pak. Bakal tersinggung dia.”

“Gapapa mas, asal ga tau !“, Suara Bapak penjaga warung tiba-tiba berbisik. Sepasang matanya melirik curiga ke pinggir jalan.

Anak muda itu mengikuti menatap ke arah jalan. Diperhatikan sosok-tua yang berdiri lesu di depan gerobak jualannya. Sesekali sosok-tua itu menengok ke arahnya, sorot mata mereka bertemu, gemuruh laju kereta dari seberang jalan memalingkan mukanya.

Sigap anak muda itu berkelebat mengangkat mangkuk, cepat-cepat ia bergerak menuju tempat sampah. Ditengah remang malam, tempat sampah nyaris penuh, pita-pita warna kuning tampak berserakan di sana-sini. Semangkuk mie ayam yang baru dibeli dibuangnya dengan was was.

“Bapak makan juga ?”

“Iya."
"Kasihan dari sore ga ada yang beli."
"Saya amati seminggu ini sepi."
"Apalagi pandemi, sering bengong mas !“

“Masih mendingan warung."
"Satu dua, ada aja yang beli. Jadi kasihan.“

“Tapi yaa... "
"Gitu deh..”, Bapak penjaga warung tersenyum sendiri.

Selang berapa lama anak muda itu bangkit, untuk terakhir kali ia menghirup kopi yang tersisa, menggantungkan ransel ke pundak kemudian berjalan menghampiri bapak-tua di depan gerobaknya.

Samar-samar, anak muda itu terlihat membuka dompet lalu menyerahkan selembar uang, hanya sebentar ia berbicara dengan bapak-tua itu. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar percakapan mereka.

“Ga usah pak. Ambil aja buat bapak.”
“Terima kasih, mas.”
“Moga laris ya pak."
"Mie ayamnya enak, kapan kapan mampir lagi deh !”

Anak muda itu mengirim senyum, lantas berlari terburu menyeberang jalan, berbelok ke kiri, menghilang dibalik pepohonan dan bayang-bayang malam.



Bekasi, 18 Juni 2021



Tuesday, April 20, 2021

CINTA DIBALIK NODA


Tiga anak muda dari kota Jogjakarta, bergabung dalam sebuah grup vokal meniti karir dalam dunia musik di Ibu Kota. Rafli (Sandro Tobing), Zaskia (Maya Rumantir), Atika (Meriam Bellina) mereka menjalin ikatan persahabatan, berjuang bersama demi mencapai puncak karir dalam dunia tarik suara yang digeluti.

Seiring naiknya popularitas grup, tumbuh rasa saling mengasihi diantara mereka. Atika diam-diam mencintai Rafli yang juga berprofesi sebagai penyiar radio. Beberapa kali ia berusaha menunjukkan perhatian dan mengungkapkan rasa kepada sahabatnya itu, namun Rafli bersikap acuh tak peduli. Di dalam hati, Atika begitu yakin kelak sahabatnya akan menerima rasa cintanya dan akan memilikinya.

Sambil berbaring di atas tempat tidur, menyendiri dalam kamar, nyaris setiap malam, Atika melampiaskan rasa cintanya dengan mendengarkan suara Rafli melalui siaran radio. Hingga suatu malam ia mendengar ungkapan cinta Rafli kepada Zaskia sahabatnya yang tidak sengaja masuk tersiarkan melalui radio. Atika tersentak, tak percaya, kaget, terpukul dan kecewa menghadapi kenyataan. Rafli ternyata mencintai sahabatnya, ia hanya bertepuk sebelah tangan !

Atika memutuskan keluar dari grup, mereka berpisah meniti karir masing-masing. Atika beralasan beralih karir ke dunia balap motorkros, dunia lain yang digeluti olehnya, sementara dua sahabatnya terus melanjutkan karir di dunia musik dengan mempertahankan grup.

Luka, sakit hati, rasa kecewa, iri dan dengki menghantui kehidupan Atika, karir di dunia balap motor hanyalah pelarian belaka untuk melampiaskan kemarahan hatinya. Atika mulai kehilangan rasa percaya diri dan berubah menjadi sosok yang lemah dan rapuh.

Eros (Abubakarsyah Boetje) yang sadar potensi dan mengikuti perjalanan karir sejak awal memanfaatkan kondisi itu untuk mengeksploitasi Atika. Ia mendekati Atika lalu menawarkan diri membantu untuk bersolo karir. Karir Atika di dunia musik, selanjutnya dibangun bersama Eros dengan ambisi menyaingi mantan grupnya. Popularitas Atika kian bertambah kuat namun lambat laun Eros menariknya masuk ke dalam lingkaran setan dunia kegelapan.

Atika lantas terjebak dalam dunia obat-obatan, minuman, pergaulan bebas dan prostitusi. Atika kehilangan dirinya, ia terombang ambing kehidupan yang rumit, hingga suatu peristiwa perampokan yang dilakukan oleh Eros dan gerombolannya, melibatkan dirinya. Ia ditangkap polisi, kemudian dilempar ke dalam ruang rehabilitasi. Atika berada dalam titik terendah kehidupannya.

Rafli yang merasa iba dan sayang sebagai sahabat bermaksud membantu Atika keluar dari penderitaan. Ia menjaga, mengurus dan merawat Atika selama melakukan proses rehabilitasi.

Waktu berjalan, perhatian tulus Rafli kepada Atika membuat hubungan dengan Zaskia retak. Sebagai kekasih Zaskia merasa diabaikan sementara Rafli justru menuntut agar merelakan dirinya untuk meluangkan sedikit waktu membantu Atika yang sedang tak berdaya dan sangat butuh pertolongan. Zaskia merasa tersudut dan dipaksa menentukan pilihan, dengan berat hati akhirnya ia memilih lelaki lain yang sabar mendekatinya dan meninggalkan Rafli sendiri.

Rafli membalik badan, ia berjalan kembali menuju ruangan perawatan Atika, duduk di samping ranjang, di depan tatapan kosong, wajah yang pasi, bibir pucat dengan tubuh kurus terbaring lemah, Rafli berjanji menunggu Atika sembuh dan memutuskan mencintainya meski ia tahu wanita yang dihadapannya penuh noda dan mungkin dosa !

.

Film ini mengantar Meriam Bellina mendapat penghargaan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 1984 di Jogjakarta.


Jakarta, 17 April 2021


Saturday, April 3, 2021

Mimpi


Menembus embun pagi, ia mendekati seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon menunggu matahari. Langkahnya bingung, ragu. Sebentar ia memutar badan, berbalik arah, lalu kembali membalik badan memberanikan diri, derap kakinya cemas bergerak memburu.

Dekat, ia berhenti di depan lelaki tua yang menunduk duduk sendiri. Tongkat ditangannya terus menggores gores tanah.

"Tadi malam, aku bermimpi !", sapanya kikuk.

"Lalu ?", lelaki tua itu hanya menatap kakinya.

"Yahh, aku dimakamkan sendiri !"
"Mereka memasukkan mayatku ke liang."
"Menimbun dengan riang, lalu ringan meninggalku !"
"Tak seorangpun mengantar dan menungguku !"

"Terus, kenapa dengan mimpimu ?", mata lelaki tua itu merayap pelan menaiki tubuhnya. Ia mendongak.

"Aku takut !", gelisah suaranya terdengar gemetar.
Diam mereka saling bertatapan. Dua pasang mata bertemu kaku. Wajahnya terus menunggu, menghiba, berharap petuah meluncur dari mulut lelaki tua itu.

Tertatih lelaki tua itu bangkit, diangkatnya tongkat, menekan, mendorong dorong bahu kiri sosok yang nenghalangi jalannya. Susah payah ia menyingkirkan tubuh kurus dihadapannya. Lelaki tua itu melintas disampingnya, sekejap kemudian menahan langkah, matanya melirik merendahkan, mulutnya mendekat ketelinga, lidahnya menjulur mengejek.

"Kau bukan takut mati sendiri !"
"Kau takut tak dihormati !"

Lelaki tua itu berlalu meninggalkannya begitu saja. Ia terus berjalan lurus, tanpa memaling ia acuh menjauh tak peduli.



Bekasi, 14 April 2021



Sunday, March 21, 2021

THE DIRT


Kisah perjalanan band rock Motley Crue, berawal dari seorang anak, yang karena kondisi kehidupan tersingkirkan dan melakukan perlawanan dengan menyingkirkan keluarganya.

Anak itu kemudian merubah nama menjadi Nikki Sixx untuk membuang identitas keluarga sekaligus masa lalunya. Ia membakar keberadaan dirinya, menciptakan diri kembali menjadi sosok-baru yang memproyeksikan diri menjadi seorang rockstar.

Ia menjalani hidup selanjutnya dengan konsisten, ia mengabdikan setiap tindakan untuk mengejar proyeksi-dirinya di masa-depan. Segala tindakannya terikat dalam keterarahan pengejaran penciptaan diri menjadi rockstar yang nyata.

Hingga satu titik, ia benar-benar menjadi rockstar, mewujud menjadi pusat dalam dunia yang dihayatinya. Band rock yang didirikannya Motley Crue mencapai puncak popularitas.

Namun ketika berdiri dipuncak eksistensinya, ia kehilangan 'pusat-kehidupan', ia terus bergerak tanpa arah, tenggelam dalam dunia kekacauan obat-obatan, minuman dan sex bebas. 'Pusat' yang dengan sengaja telah dibuangnya jauh bertahun-tahun yang lalu, yang dengan mati-matian ditolak sebagai bagian dirinya, sejarah kehidupan-dirinya sebagai manusia. Keluarga !

Kisah berakhir ketika ia menyadari bahwa pengejarannya terhadap popularitas sebagai rockstar hanyalah pengejaran terhadap 'sebuah-keluarga'. Pencarian 'pusat' yang hilang. Dalam upaya membangun kembali band yang mengalami perpecahan, ia menyadari semua anggota band adalah satu-satunya 'keluarga' yang dimilikinya. Sebuah 'pusat-kehidupan' bagi dirinya dan menyadarkannya atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kepada kedua orang tuanya, teman-temannya, orang-orang disekelilingnya dan masyarakat-umum.


Jakarta, 21 Maret 2021


Sunday, March 14, 2021

THE DEER HUNTER


Menceritakan perjalanan hidup tiga orang sahabat Mike, Nick dan Stevie dari sebuah desa pinggiran yang terlibat dalam perang Vietnam. Menggambarkan bagaimana perang berpengaruh langsung terhadap kehidupan individu yang harus memutuskan suatu pilihan dengan mempertaruhkan kehidupan-nya.

Adegan Russian Roulette menampilkan perjudian dengan taruhan hidup dan mati. Mike (Robert De Niro) memanfaatkan perjudian itu untuk menyelamatkan hidup-nya dan dua sahabatnya, sekaligus pada saat yang sama memperbesar kemungkinan kematiaan-nya dengan menantang menggunakan tiga butir peluru.

Dengan menembakan peluru yang tersisa, Mike dan sahabatnya berhasil lolos dengan membantai tentara Vietnam yang menawan dan mengadu mereka dalam perjudian itu, masing-masing kemudian selamat melewati masa peperangan dan melalui hidup yang terpisah.

Mike yang bernasib baik, akhirnya menemukan kedua sahabat hidup dalam keadaan yang mengenaskan. Stevie meninggalkan istri dan anaknya dalam kondisi jiwa stres, dia sendiri mengalami cacat putus kaki dan tangan sementara Nick hilang kesadaran dan menderita trauma peperangan terjebak dalam dunia perjudian malam di Saigon untuk mempertahankan hidup-nya. Mike berupaya menolong kedua sahabatnya.

Setelah membawa pulang Stevie dan mempertemukan dengan anak istrinya. Pada bagian akhir, kembali menampilkan adegan perjudian Russian Roulette antara Mike melawan Nick, melalui pertarungan Mike berusaha menyadarkan sahabatnya yang mengalami trauma-psikologis dan bermaksud menarik keluar dari lingkaran dunia perjudian Russian Roulette di Saigon, untuk membawa kembali pulang ke kampung halaman.

Tragis, upaya Mike untuk menyadarkan ingatan Nick, dengan mengingatkan peristiwa pertarungan Russian Roulette antara dirinya melawan Nick ketika menjadi tawanan serta kenangan indah ketika berburu rusa di atas pegunungan, gagal. Peluru menembus kepala sahabatnya.

Setelah pemakaman Nick sahabatnya, Mike, Stevie yang duduk di kursi roda, istrinya dan teman-teman-nya berkumpul penuh duka, dalam suasana kaku, haru diliputi kesedihan mereka menyanyikan lagu kebangsaan tentang berkah Tuhan dan kejayaan negeri yang dibelanya. Sebuah sinisme dan satire yang menggigit.

Film yang dirilis tahun 1978 dengan aktor utama Robert De Niro dibantu Merryl Streep, memenangkan lima Academy Awards pada upacara Academy Awards ke-51, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Michael Cimino, dan Aktor Pendukung Terbaik untuk Christopher Walken, Tata Suara Terbaik serta Editing Film Terbaik. Merryl Streep pertama kali mendapat nominasi Academy Award untuk Aktris Pendukung Terbaik pada film ini.


Bekasi, 14 Maret 2021